Rabu, 24 Maret 2010
KETIKA POLITIK MULAI “BERGOYANG”
Akhir-akhir ini Malang digemparkan dengan isu calon Bupati, Inul Daratista. Sosok wanita yang terkenal dengan goyang ngebornya tersebut ingin juga mencicipi dunia perpolitikan. Tak ada salahnya memang, karena setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama untuk menjabat sebagai pemimpin, baik pemimpin daerah, kota, propensi bahkan jadi presiden. Asalkan sanggup dan mempunyai kompetensi yang mumpuni dia berhak mencalonkan dirinya.
Fenomena artis terjun ked dunia politik menjadi tren lima tahun terakhir ini, mulai dari Primus, Dedi Mizwar dan lainnya, termasuk juga Inul Daratista yang sempat menjadikan bumi Indonesia heboh dengan goyang ngebornya beberapa tahun kemarin.
Popularitas artis memang sangat besar di tengah-tengah masyarakat Indonesia, khususnya bagi kaum pemuda dan para remaja yang senang dengan dunia entertainment. Dengan ini, sangat memungkinkan seorang artis yang mengajukan dirinya untuk terjun dalam politik akan mendapatkan pendukung yang banyak dari masyarakat. Bisa dibayangkan, masyarakat Indonesia yang menjadi penggemar dunia hiburan sangat banyak.
Hal inilah yang mungkin menjadi salah satu pendorong para artis berburu mengejar dunia politik. Mereka dengan percaya diri mencalonkan dirinya dan maju ingin memimpin bangsa. Walaupun terkadang timbul tanda tanya, ada ada di balik semua itu?. Mengapa mereka berani meninggalkan dunia entertainment dan lari ke dunia politik. Padahal, lapangan keduanya sangat kontradiktif, yang pertama dipenuhi dengan kesenangan, sedangkan kedua dipenuhi dengan “pertikaian” , debat dan perebutan massa yang tak jarang menimbulkan konflik fisik.
Para artis juga sangat memungkinkan untuk dipilih oleh masyarakat luas. Hal ini bisa terjadi karena kekecewaan mereka terhadap para politikus sebelumnya. Kekesalan mereka akhirnya menjadikan mereka anti untuk memilih pemimpin sebelumnya. Secara sekilas, realitas yang ada memang menunjukkan bahwa pemimpin kita baik tingkat daerah maupun nasional menunjukkan hasil yang kurang baik. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya warga miskin, harga bahan pokok naik dan problem bangsa lainnya.
Dari jenis apapun itu, setiap orang mempunyai hak untuk berpolitik dan memimpin bangsa. Yang terpenting adalah mempunyai kompetensi yang bagus dan mau berbaur dan memperhatikan rakyat bawah serta mengerti tentang aturan-aturan politik. Kalau seorang artis hanya bisanya mengguliti dunia hiburan dan tidak punya bekal kepemimpinan yang baik, mendingan konsen di dunia hiburan saja dan tidak terjun ke politik. Sebab, seorang politikus tidak hanya akan mengurusi dirinya sendiri tapi juga dituntut untuk bisa mengurus orang lain.
Mari kita lihat potret seorang pemimpin di zaman sahabat. Misalkan saja, Umar bin Khattab. Khalifah kedua setelah nabi tersebut telah menunjukkan contoh yang baik untuk para pemimpin. Dia tegas, lemah lembut, dan mau berbaur dengan rakyat bawah. Diceritakan, suatu ketika Umar jalan-jalan berkeliling kota Makkah. Di tengah perjalanan ia mendengar suara tangisan anak-anak. Di hampiri suara tersebut, dan ternyata dia melihat ada seorang ibu yang sedang menggodok sesuatu di sekelilingnya ada anak-anaknya yang sedang menunggu sesuatu tersebut matang.
Umar bertanya kepada ibu tersebut, “wahai ibu, apa yang hendak anda rebus tersebut?,” sang Ibu menjawab, “batu, saya memasaknya untuk membohongi anak-anak saya agar mereka bisa tidur dengan mendengar suara godokan tersebut,”. Mendengar jawaban tersebut Umar langsung bergegas pergi ke Baitul Mal hendak mengambil gandum. Dia membawa gandum untuk diberikan kepada ibu dan anak-anaknya tersebut dengan pundaknya sendiri. Di tengah-tengah perjalanan ada seorang sahabat yang menawarkan diri untuk mengangkat gandum tersebut, namun Umar menolaknya.
Itulah sekilas potret kepemimpinan Umar yang penuh perhatian terhadap rakyat. Yang penting bagi seorang pemimpin adalah bagaimana ia mempunyai rasa empati dan simpati terhadap rakyat lemah. Dari kalangan apapun itu, baik dari artis atau bukan. Karena telah banyak bukti banyak di antara pemimpin kita yang mengkorupsi harta rakyat. Harta yang seharusnya disalurkan kepada masyarakta lari kepada kantong dirinya.
Segala sesuatu mmemang harus dikerjakan berdasarkan ilmu. Termasuk juga dalam berpolitik. Jangan sampai politik kita hanya didorong oleh kepentingan nafsu untuk mendapatkan jabatan dan uang saja, tanpa ada bekal ilmu yang cukup. Pada intinya, semua orang boleh mencalonkan diri sebagai pemimpin, asalkan dengan mempunyai ilmu, jujur, dan bertanggungjawab serta menumbuhkan rasa empati dan simpati kepada rakyat bawah, khususnya rakyat miskin.
Kamis, 10 Desember 2009
MAHASISWA HARUSLAH BERORGANISASI
Oleh: Budi Gunawan*
Mahasiswa baru yang baru saja melepas statusnya sebagai seorang pelajar dan menggantinya dengan status baru yaitu mahasiswa, yang tempat tinggalnya bukan sekolah lagi melaikan kampus, tentu akan jauh berbeda ketika dia berada disekolah yang tugasnya dulu hanya disibukkan dengan pelajaran disekolah dan ditambah lagi pelajaran tambahan yang di pelajari di sekolahnya, sehingga berorganisasi bukanlah merupakan kebutuhan bagi seorang siswa.
Akan tetapi setelah resmi menjadi mahasiswa baru yang baru melepas peredikakntnya sebagai seorang siswa, akan memasuki sebuah “rumah baru” yaitu kampus. Kampus sebagai miniatur sebuah Negara tentu didalamnya terdapat komponen yang menyerupai sebuah Negara, salah satunya adalah orgaisasi yang terbagi menjadi dua macam, yaitu organisasi ekstra dan organisasi intra, kedua organisasi ini, sangatlah penting diikuti mahasiswa, karena banyak hal yang dapat dipelajari dalam dunia organisasi yang tidak didapatkan dalam perkuliahan, dan ilmu yang didapat dalam organisasi baik intra maupun ekstra inilah yang akan dia pakai ketika hidup dimasyarakat.
Karena memang tidak cukuplah bagi seorang mahasiswa dengan Indeks Prestasi Komultif yang tinggi, yang hanya kuliah, yang tentu ruang lingkupnya hanya kampus, perpusakaan dan kos-kosan, memang mahasiswa yang seperti ini akan pintar secara akademik, akan tetapi ketika dia lulus kuliah dan hidup ditengah masyarakat dia akan bingung degan kehidupan yang ada disekitarnya, karena memang ketika di kampus tidak pernah sama sekali bergabung dalam sebuah organisasi. Sehingga banyak hal yang tidak diketahui olehnya.
Olehk arena itu seorang mahasiswa sebagai agent of change (agen Perubahan) harus lah ikut dalam sebuah organisasi baik intra maupun ekstra. Walaupun tidak menjadi pengurus inti, minimal menjadi anggota. Dengan begitu seorang mahasiswa benar-benar bisa menjadi Agent of Change (agen perubahan), Agenf of Control (agen pengendali) dan Agent of Social (agen social)
yang bisa merubah Negara ini pada perubahan yang lebih baik, yang bisa mengontrol dan menjadi penyeimbang dari kekuatan politik dan birokrasi yangsarat akan kepentingan kelompok, individu dan mengabaikan kepentingan rakyat.
Selain dari itu perlu dipahami bahwa dunia kerja tidak hanya menuntut dan menerima mahasiswa yang Indek Prestasi Komulatif (IPK) yang tinggi, akan tetapi juga membutuhkan orang-orang yang dulunya pernah aktif di organisasi ketika masih menjadi mahasiswa. Akan tetapi haruslah menejemen waktu yang bagus dan proporsional supaya antara kuliah dan organisasi sama-sama bisa berjalan dengan baik. Jangan sampai aktif diorganisasi dan melupakan tugas utamanya yaitu kuliah, akan tetai tidak dibenarkan bahwa organisasi pasti menghambat kulia, hal ini tidak benar karena banyak sekali aktivis yang lulus sesuai dengan waktunya dan Indeks Prestasi Komulatifnya pun yang diraih diatas rata-rata.
Walaupun tidak bisa dipungkiri banyak aktivis yang sampai tua dikampus tidak lulus dan terkadang nilainya anjlok, tapi tetap bukanlah organisasi yang menjadi penyebab utamanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita memproritaskan mana yang lebih penting, dan bagai mana kita mengatur waktu agar kuliah lancer dan organisasi lancar. dan ada keuntunan lain yang didapat dalam berorganisasi kita bisa punya banyak kenalan yang bisa berbagi pengalaman dan ilmu yang nantinya akan berguna ketika hidup dimasyarakat.
KETIKA BANGSA TAK LAGI HUMANIS
Oleh: Muhammad Rajab
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak pernah terlepas dari bantuan dan pertolongan orang lain. Atas dasar ini, ia dituntut untuk selalu menjaring banyak relasi terhadap orang lain. Baik dalam bisnis, politik, ekonomi, pendidikan dan seluruh aspek kehidupan.
Humanitas merupakan salah satu cara agar seseorang dapat bekerja sama dan tolong-menolong dengan orang lain. Tanpa berkekal humanitas kita tidak akan bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain. Karena di dalam humanitas tersebut terdapat nilai-nilai kemanusiaan dan moral yang selalu menjadi sorotan di muka orang lain. Dengan nilai-nilai tersebut orang lain akan tertarik dan selalu ingin menolong dan bekerja sama dengan kita.
Adapun nilai-nilai humanitas tersebut adalah pertama, menghormati dan menghargai orang lain. Ini merupakan sifat dasar dari seorang yang humanis, ia selalu berusaha untuk menghormati orang lain, baik yang terkait dengan perbedaan pendapat, maupun menghormatinya di setiap gerak dan aktivitasnya. Dalam artian bahwa kita tidak boleh sembarangan dalam bertindak tanpa melihat bagaimana orang lain melihat tindakan kita. Kalau tidandakan tersebut bisa merugikan dan mengganggu ketenangan orang lain maka hendaknya dihentikan.
Kedua, Memperhatikan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku di dalam satu komunitas atau masyarakat. Orang yang humanis tidak akan bertindak gegabah dan seenaknya sendiri di tengah-tengah masyarakat. Ia akan selalu memperhatikan dan mempertimbangkannya terlebih dahulu apakah perbuatannya tersebut bertentangan atau berlawanan dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat.
Ketiga, Lebih mendahulukan orang lain dari pada dirinya. Sifat seperti susah kita temukan, karena orang yang mempunyai sifat seperti ini sangat langka, apalagi di era modern yang sudah tidak memperhatikan lagi nilai-nilai sebuah kebersamaan (social value).
Terkait dengan nilai-nilai humanitas tersebut sebenarnya Islam sudah mengajarkan kepada kita melalu Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Umar bin Khattab ra. Mengangkat gandum dengan pundaknya sendiri hanya untuk memberikannya kepada salah seorang rakyatnya yang kelaparan saat itu. Selain itu, ketika kaum muhajirin hijrah ke Madinah, kemudian kaum Anshor menyambutnya dengan senang hati dan penuh perhatian, mereka memberikan separoh hartanya kepada kaum muhajirin, bahkan sampai pada istrinya pun kalau mereka akan berikan.
Nah, sekarang bagaimana dengan kondisi bangsa saat ini?, Sudahkah ada nilai-nilai humanitas tersebut pada setiap anak bangsa dan para pembesar-pembesar yang duduk enak di kursi sofa dalam ruangan AC tersebut? Pernahkah para pembesar kita memikirkan kondisi rakyat yang semakin hari semakin terpuruk?, Pernahkah terbesit dalam diri pemimpin kita untuk berusaha semaksimal mungkin meniru Umar bin Khattab dalam melayani rakyatnya?
Beberapa pertanyaan tersbut kalau kita jawab dengan jujur, maka kita akan mengelus hati dan menangis melihat realitas yang terjadi saat ini. Rakyat miskin semakin hari semakin meningkat. Apalagi ditambah dengan naiknya bahan-bahan pokok dan anaiknya BBM serta gas Elpiji. Kondisi rakyat, khususnya rakyat miskin semakin mengkhawatirkan.
Sebulan yang lalu pemerintah menaikkan harga BBM sebesar 30 persen. Kemudian atas dasar tersebut pemerintah menyarankan kepada penduduk Indonesia untuk beralih dari penggunaan kompor minyak tanah ke gas elpiji, karena dianggap relative lebih murah dibandingkan dengan menggunakan kompor minyak. Tak lama berjalan penggunaan elpiji di sebagian kalangan masyarakat, baru-baru ini harga elpiji dinaikkan lagi sebanyak 17 persen. Dari yang harga sebelum kenaikan 56 ribu pertabung yang kapasitasnya 13 kilogram menjadi 63 ribu pertabungnya. Bahkan, di sebagian pengecer ada yang berani menjual gas elpiji lebih besar dari kebijakan yang sudah ditetapkan tersebut.
Kenaikan harga Elpiji tersebut menjadikan masyarakat semakin hari semakin tertekan dan tak mampu mengimbangi arus naiknya harga tersebut. Apalagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tak dapat jalan lagi untuk keluar dari problem seperti ini.
BLT yang dicanangkan pemerintah hingga saat ini masih belum menyeluruh dan belum terbagi rata terhadap masyarakat miskin. Kalaupun dapat bantuan BLT, belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kondisi mereka semakin hari semakin mengkhawatirkan.
Apakah ini yang dinamakan humanis?. Bangsa yang dulu terkenal dengan sopan santun yang bagus dan selalu menghormati orang lain tak lagi kita temukan, walaupun ada paling hanya sebagian kecil saja.
Akibat ketidakhumanisan pemerintah terhadap rakyatnya tersebut muncul berbagai macam permasalahan dan problem-problem baru yang tentunya tidak kita inginkan. Para mahasiswa melakukan demontrasi. Selain itu juga muncul juga bentrokan-bentrokan antara rakyat dengan pemerintah. Ini akan mengakibatkan martabat bangsa ini anjlok di hadapan bangsa lain.
Dengan realitas yang ada tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu menangani msalah-masalah yang menimpa bangsa. Akibatnya bukan hanya Negara yang rugi tapi rakyat sebagai warga Negara pun ikut mencicipi dampak negatirnya.
Permasalahan-permasalahan semacam ini akan terus berkembang dan tumbuh subur jika tidak ada penanganan serius dari pemerintah yang mempunyai wewenang dan otoritas tertinggi di Negara ini. Maka supaya permasalah-permasalahan, tindakan anrkis dan bentrokan antara rakyat dengan pemerintah tidak lagi terjadi di Negara tercinta ini perlu ada pelestarian nilai-nilai humanitas bangsa.
Pemerintah yang duduk di atas harus pro rakyat dan harus memperhatikan permasalahan-permasalahan yang sedang menimpa rakyat. Jika tidak maka kasus kemiskinan, busung lapar dan berbagai macam problem lainnya tidak akan pernah terselesaikan hingga SBY pun lengser dari jabatannya.
Sabtu, 05 Desember 2009
MAHASISWA DAN KEPEMIMPINAN BANGSA

Dimuat di Buletin Forsifa
Muhammad Rajab*
Ir. Sukarno pernah berkata: “Berikan saya 10 orang pemuda, akan saya ubah dunia”. Dalam pepatah arab juga dikatakan “syubbanul yaum rijaalul ghod (pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan”. Atau ada juga istilah lain yang mengatakan bahwa pemuda adalah tombak perjuangan bangsa.
Beberapa ungkapan tersebut sama-sama menunjukkan bahwa ternyata pemuda mempunyai peranan penting dalam memperjuangkan bangsa. Pemuda adalah generasi masa depan yang dengan tangannya diharapkan dapat mengubah bangsa menuju bangsa yang bermoral dan beradab serta bangsa yang mempunyai peradapan maju.
Mahasiswa merupakan salah satu dari bagian pemuda tersebut. Oleh karena itu mahasiswa sebagai orang yang tertinggi jenjang pendidikannya diharapkan dapat menjadi agent of social change (agen perubahan social) di tengah-tengah masyarakat.
Apalagi jika melihat kondisi masyarakat saat ini yang semakin terpuruk, baik aspek moral, ekonomi, politik, pendidikan dan social. Maka, mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dalam perbaikan kondisi masyarakat Indonesia ke depan. Bapak Prof. Malik Fajar juga mengatakan di UMM DOME pada acara pembukaan PESMABA 2007, mahasiswa dididik oleh Universitas untuk menjadi tenaga ahli, calon pemimpin dan sumber kekuatan untuk membangun peradaban masa depan.
Oleh karena itu, seharusnya bagi seorang mahasiswa untuk lebih meningkatkan kinerjanya dalam menjalankan tugasnya sebagai mahasiswa. Dalam artian bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Namun, bagaimana dia bisa belajar melalui lingkungan dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian. Baik yang intra kampus maupun yang ekstra kampus.
Kenapa harus aktif dalam organisasi?. Perlu disadari bersama bahwa materi yang kita dapat di kelas paling hanya 25 persen. Itu pun tidak mencakup seluruh aspek yang dibutuhkan di dalam masyarakat. Seperti, bagaimana mengatur dan memenej sesuatu dengan baik. Ilmu seperti ini hanya bisa didapat melalui kreativitas kita dalam berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan di luar kelas.
Selain itu, kita sebagai mahasiswa juga perlu sadar bahwa menuntut ilmu itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Di mana dan kapan pun kita bias belajar, baik melalui kegiatan-kegiatan seperti seminar, diskusi, organisasi atau pun lingkungan kita.
Kesadaran akan hal ini sudah mulai merosot di kalangan mahasiswa. Sehingga tidak jarang ditemukan mahasiswa yang hanyan kuliah, habis kuliah langsung nangkring di jalan. Ada juga yang habis kuliah langsung pulang dan tidur-tiduran di kos, nonton TV dan lain sebagainya.
Beberapa kriteria tersebut tak layak untuk dilakukan oleh seorang mahasiwa yang benar-benar mau belajar dan ingin memperbaiki keadaan masyarakat bangsa. Bagaimana bisa memperbaiki masyarakat sedangkan dirinya belum baik?.
Dan yang perlu dilakukan oleh kita adalah bagaimana kita sekarang bisa introspeksi diri demi perjuangan bamngsa ke depan. Kekurangan yang pernah kita lakukan di masa lalu, kita perbaiki demi hari yang cerah di masa yang akan datang.
Khusus, untuk mahasiswa baru (MABA), ingat pesan orang tua yang telah merelakan kepergian Anda untuk menuntut ilmu. Renungkan sedalam-dalamnya apa pesan orang tua kepada Anda sebelum Anda beranjak dari rumah.
Semangat barumu adalah harapan bangsa. Langkah kakimu adalah perjuangan. Belajarmu adalah bekal. Jadikan setiap detik langkahmu sebagai bukti perhatianmu terhadap kondisi bangsa yang kian murat-marit. Karena Anda adalah pemimpin masa depan yang akan memperbaiki peradaban bangsa.
Menjadi Mahasiswa ideal
Sebagai generasi penerus bangsa, idealnya seorang mahassiswa dapat memberikan sesuatu yang terbaik untuk diri sendiri, orang tua, kampus dan Negara. Tentunya untuk menjadi mahasiswa yang baik dan bias memberikan manfaat kepada diri, orang tua dan kampus serta bangsa, maka seharusnya dia berusaha semaksimal mungkin untuk menuju itu.
Maka satu hal yang sangat penting dalam perjalanan seorang mahasiswa untuk bias menjadi mahasiswa yang baik serta dapat mengabdi kepada agama, masyarakat dan bangsa, yaitu hendaknya adanya kesadaran yang mendalam dirinya, bahwa dia adalah harapan agama, masayrakat dan bangsa.
Kesadaran tersebut tentunya tidak dapat muncul dengan sendirinya, walaupun bias, kemungkinannnya sangat kecil sekali. Nah, untuk menimbulkan kesadaran tersebut, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa hal yang dapat mempengaruhi kondisi seseorang, yaitu fakor heriditas (keturunan) dan factor lingkungan.
Untuk itu, maka hendaknya seorang mahasiswa khususnya MABA mencari lingkungan yang baik, mulai dari memilih kost dan teman pergaulan sehari-hari. Sebab semua itu akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangannya.
Dengan memilih lingkungan yang baik, maka secarra tidak langsung akan timbul kesadaran yang baik pula dalam dirinya. Baik itu dengan aktif di berbagai organisasi, aktif membaca dan meulis. Karena dengan bekal inilah dia akan dapat mengabdi kepada agama, masyarakat dan bangsa ketika telah lulus dari perguruan tinggi.
Jumat, 04 Desember 2009
“HUMANIS” TERHADAP LINGKUNGAN
Manusia adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari lingkungan. Dia selalu membutuhkan untuk berinteraksi dengan lingkungan. Karena lingkungan merupakan tempat berteduh, bercocok tanam, dan yang tak kalah pentingnya adalah lingkungan merupakan habitat manusia. Dengan demmikian manusia juga dituntut untuk menghormati lingkungan. Dalam artian bahwa manusia juga harus ramah terhadap lingkungan.
Sifat humanis manusia tidak hanya ditampakkan kepada manusia, namun sifat humanis tersebut juga harus nampak dan terimplemementasikan dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Ini dimaksudkan agar antara manusia dengan lingkungan tercipta hubungan yang harmonis dan tercipta hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
Manusia yang tidak ramah alias tidak humanis terhadap lingkungan akan bertindak semena-mena terhadap lingkungan dan alam sekitarnya. Mereka tidak peduli apakah tindakannya tersebut dapat membahayakan dirinya dan orang lain. Yang terpenting baginya adalah bagaimana menggapai keuntungan sesaat. Seperti illegal logging (penebangan pohon secara liar), pembuangan sampah sembarangan dan lain sebagainya. Ini akan menyebabkan perubahan iklim yang akan menimbulkan berbagai macam bencana.
Menurut data Badan Pangan Dunia (FAO) bahwa Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap harinya. Bahkan Guinness Book Of World Records mencatat Indonesia sebagai penghancur hutan tercepat di dunia, di mana sekitar 1,8 juta hektar pohon ditebang setiap tahunnya. Dengan berkurangnya jumlah pepohonan yang ada, maka kondisi dunia akan semakin panas. Dan ini akan terus menyuburkan bencana global warming (pemnasan global).
Selain itu, Perubahan iklim global yang dipacu oleh meningkatnya gas rumah kaca karbon dioksida atmosfer, telah menyebabkan terjadinya berbagai bencana alam di berbagai belahan dunia. Tingkat kegawatan perubahan iklim global yang disebabkan oleh emisi karbon ke atmosfer terendam dalam dokumen Kyoto Protokol dan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang menekankan pentingnya usaha ke arah pengurangan emisi karbon serta penyerapan karbon atmosfir.
Salah satu alternatif dalam mengendalikan konsentrasi karbon yaitu melalui pengembangan "sink program", dimana karbon organik sebagai hasil fotosintesis disimpan dalam biomasa tegakan hutan atau pohon berkayu. Indonesia sangat berpotensi menjadi negara penyerap emisi karbon karena mempunyai hutan tropis yang luas ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire.
Potensi yang ada tersebut tidak akan pernah termaksimalkan jika manusia tidak bersifat humanis alias ramah terhadap lingkungan. Untuk itu, supaya dapat mengerm laju kerusakan alam yang ada khususnya di Indonesia, yang perlu ditingkatkan adalah sifat humanis atau ramah lingkungan dan membuang jauh-jauh sifat egois dan serakah.
KEKERASAN DAN KETENANGAN SOSIAL
Kekerasan memang tidak akan pernah terlepas dari ikatan dan hubungan sosial baik di keluarga maupun masyarakat. Ada kekerasan rumah tangga, ada juga kekerasan di masyarakat. Kekerasan rumah tangga adalah kekerasan yang terjadi dalam keluarga sedangkan kekerasan di masyarakat adalah segala bentuk tindakan anarkis yang terjadi di masyarakat, seperti pembunuhan perampokan dan lain sebagainya.
Berbicara masalah kekerasan berarti juga berbicara ketenangan. Karena kedua istilah ini sangat erat hubungan dan kaitannya. Antara kekerasan dan ketenangan ibarat dua sisi mata uang yang tak pernah terlepaskan dalam kehidupan sosial. Kalau yang mendominan kekerasan, maka hilanglah ketenangan, begitu juga sebaliknya. Jika nampak dalam kehidupan sosial sebuah ketenangan berarti kekerasan di dalamnya sangat minim atau bahkan tidak ada.
Memang kalau kita juga mau kembali kepada sejarah bahwa kedua istilah ini (kekerasan dan ketenangan) terus berdampingan, bila yang santu nampak yang lain hilang. Salah satu contoh saja, bagaimana kondisi Arab sebelum datangnya Islam. Kekerasan yang terjadi sangat mencekam dan menghilangkan ketenangan sosial. Salah satu contoh kekerasan yang sangat tidak manusiawi pada saat itu adalah bayi perempuan yang baru lahir harus dikubur hidup-hidup. Perilaku seperti ini merupakan tindakan yang sangat kejam bahkan melebihi binatang. Sejahat apapun singa tak akan pernah memakan anaknya sendiri.
Kekerasan semacam ini mendatangkan ketidaktenangan di hati masyarakat Arab dahulu, khususnya bagi kaum wanita. Mereka takut kalau-kalau yang lahir anaknya nanti adalah perempuan. Keluar rumah sendirian takut kalau nanti di tengah jalan ada perampokan dan tindakan kejahatan lainnya. Kemudian setelah Islam datang, hilanglah berbagai macam tindakan kekerasan yang dapat mendatangkan kegundahan dalam hati masyarakat tersebut. Selain itu, banyak kasus lain seperti pada masa Hitler di Jerman dan lain sebagainya.
Dan sekarang di Indonesia sudah sering kita dengar dan lihat di media cetak dan elektronik beberapa kasus pencurian, perampokan hingga pembunuhan. Tindakan kekerasan dan anrkisme seakan merupakan makanan sehari-hari yang tak pernah lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Kenyamanan dan ketenangan yang menjadi hak masyarakat tak lagi dapat terpenuhi. Tindakan kekerasan yang dilakukian oleh para pelaku tindak kejahatan terus merajalela. Aparat kepolisisan seakan kewalahan dan tak mampu lagi dalam menangani kasus-kasus semacam ini. Ini dapat dilihat dari maraknya tindak kejahatan yang terjadi.
Orang di rumah takut kalau-kalau nanti ada yang mencuri hartanya. Orang yang bepergian jauh takut kalau-kalau di tengah jalan dirampok, dijambret, dicopet dan lain sebagainya. Tak ada lagi jaminan keamanan dan kenyamanan dalam maupun luar rumah. Kekerasan dalam rumah tangga (KdRT) misalnya yang diberitakan harian Media Indonesia (22/7/08) bahwa ada seorang suami yang membunuh istrinya menjelang penceraiannya di kecamatan Cimanggis Kota Depok. Selain itu, seorang adik membunuh kakaknya sendiri karena menolak bamngun dari tidur. Adapun kekerasan di luar rumah pun sering terjadi. Masih hangat di ingatan kita kasus jagal Riyan dari Jombang beberapa bulan yang lalu.
Beberapa kasus tersebut akan memberikan implikasi buruk terhadap kenyamanan dan ketenangan hidup masyarakat. Karena masyarakat merasa takut kalau kasus seperti itu akan menimpa dirinya. Secara psikologis juga akan mempengaruhi ketenangan dan kelancaran masyarakat dalam berkativitas.
Hak Asasi Manusia yang menjadi junjungan kita bersama kurang terpenuhi. Hak masyarakat untuk hidup tenang dan tentram setiap hari terkikis dan menipis. Ini merupakan bukti bahwa jaminan Negara terhadap kenyamanan dan ketentraman hidup kurang terimplementasi secara maksimal.
Menurut Buya Hamka bahwa Hak Asasi Manusia dibatasi oleh undang-undang dan aturan yang berlaku. Selain itu, Hak Asasi Manusia juga dibatasi dengan tidak menggagnggu hak asasi orang lain. Jika itu mengganggu hak orang lain, maka itu merupakan satu pelanggaran terhadap hak asasi.
Maka kekerasan dan tidakan anrkis bukanlah bagian dari makna sebenarnya hak asasi manusia, karena telah menggangu dan mengambil hak orang lain untuk hidup nyaman dan tenang. Selain itu, kekerasan juga telah merusak ketenangan sosial di masyarakat. Indikasinya adalah munculnya rasa tidak nyaman pada setiap individu masyarakat.
Untuk itu, tindak kekerasan harus segera mendapatkan penyelesaian. Untuk itu hendaknya pemerintah memaksimalkan petusgas keamanan yang ada. Selain itu perlu, ketegasan dari pemerintah agar supaya menghukum pelaku tindak kekerasan sesuai dengan undang-undang yang ada.
Terlepas dari otoritas pemerintah juga perlu ada kesadaran pada setiap individu bahwa tindakan kekerasan merupakan tindakan yang dapat membahayakan diri dan orang lain serta dapat membuat kehidupan sosial kacau balau. Kesadaran ini perlu ditanamkan kepada setiap individu, baik melalui penyuluhan-penyuluhan tentang kehidupan sosial atau dengan memasang pamlet dan poster di jalan-jalan.
*Penulis adalah,
Aktivis Forum Studi Islam Fakultas Agama Islam dan Reporter BESTARI Unmuh Malang.
BENCANA “CAMBUK” KEMAJUAN

gambar diambil dari http://www.arrahmah.com/images/stories/09/bencana.jpg
Dimuat di Malang Post, 18 Oktober 2009
Oleh: Muhammad Rajab*
Tidak asing lagi di telinga kita, sering terdengar berita bencana alam, mulai dari tsunami, tanah longsor, banjir, dan akhir-akhir ini adalah gempa. Dalam satu bulan September kemarin terhitung terjadi tiga kali gempa di negeri ini. Bencana alam seakan menjadi hidangan khas bagi Indonesia yang tak bisa lepas dari bumi pertiwi ini.
Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa 7,6 skala Richter terus bertambah. Berdasarkan data Satkorlak Sumatera Barat, tercatat 608 warga Sumatera Barat meninggal dunia. Data yang diperoleh VIVAnews pada Senin 5 Oktober 2009, pukul 09.45, tercatat korban tewas terbanyak berada di Kabupaten Padang Pariaman sebanyak 285 jiwa. Di Kota Padang sebanyak 242 jiwa, Kota Pariaman 32 jiwa, Kabupaten Agam 32 jiwa, Kabutapen Pesisir Selatan 10 jiwa.
Sebuah bencana tidak selamanya menghancurkan. Namun bisa saja bencana menjadi pemicu kita untuk maju. Sebagai perumpamaan adalah, cambuk yang digunakan untuk memacu kuda akan dapat mempercepat lari kuda. Begitu juga dengan bencana, ia bisa menjadi sebuah cambuk bagi Indonesia menuju kemajuan. Tergantung pada pemaknaan kita terhadap bencana.
Namun demikian, setidaknya ada beberapa kemungkinan yang bisa diambil dari peristiwa bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Pertama, bencana bisa sebagai bentuk kemurkaan Tuhan terhadap manusia yang selalu berbuat dosa dan melakukan pelanggaran terhadap alam semesta. Akibat pelanggaran-pelanggaran tersebut akhirnya alam menjadi tidak lagi bersahabat dengan manusia. Terkait dengan itu Allah SWT berfirman: “nampaknya kerusakan di darat dan di laut diakibatkan oleh tangan manusia,” (Ruum: 41)
Sebagai contoh adalah kisah Qorun yang ingkar tidak mau menginfakkan hartanya. Akibat kesombongannya tersebut Allah SWT menenggelamkannya beserta harta yang dimilikinya ke dalam bumi. Oleh sebab itulah ketika seseorang mendapatkan harta terpendam saat ini disebut dengan harta karun. Pasalnya, harta yang dimiliki oleh Qorun pada zaman Nabi Musa tersebut ditenggelamkan oleh Allah ke dalam perut bumi. Dan banyak lagi kisah-kisah bencana alam yang menimpa umat terdahulu akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan, seperti bencana kaum Sodom, dan kaum Nuh yang ditimpa dengan banjir banding dan lain sebagainya.
Kedua, bencana datang sebagai bentuk ujian dari Tuhan untuk menguji keimanan seseorang. Ada sebuah ungkapan semakin tinggi keimanan seseorang maka cobaan yang datang juga semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah SWt dalam ayatnya, “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya,”.
Ketiga, kedatangan bencana alam merupakan “cambuk” bagi seseorang untuk lebih cepat lagi atau lebih giat lagi dalam mencapai satu cita-cita. Ibarat kuda pacu yang harus dicambuk agar larinya lebih kencang. Intinya musibah atau bancana yang datang bisa dijadikan sebagai alat untuk memicu diri menuju keadaan yang lebih baik dari pada sebelumnya.
Dari beberapa kemungkinan tersebut maka setidaknya bencana yang datang secara bertubi-tubi di negeri ini bisa jadi merupakan peringatan dari Tuhan atas perbuatan dosa yang sering dilakukan oleh manusia, atau hanya sebagai cobaan, atau mungkin juga sebagai “cambuk” kemajuan bagi negeri tercinta ini. Boleh jadi di balik bencana yang datang tersebut ada emas yang akan muncul setelahnya.
Kita tidak tahu Indonesia masuk ke ranah yang mana dari ketiga kemungkinan tersebut. Yang jelas ketiga kemungkinan di atas semuanya bisa benar jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia yang semakin kacau balau. Dikatakan peringatan karena bangsa kita telah banyak melakukan kerusakan dan dosa. Dikatakan cobaan juga bisa benar untuk menguji sejauh mana kemampuan Indonesia dalam mengatasi masalah.
Terlepas dari ketiga kemungkinan di atas, kita sebagai bangsa Indonesia hendaknya bisa mengambil pelajaran dari peristiwa bencana yang sering terjadi di negeri tercinta ini. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil oleh kita agar kita menjadi bangsa yang lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya adalah introspeksi diri bagi bangsa, kenapa selama ini sering terjadi bencana. Apakah negeri kita ini sering lengah terhadap peristiwa bencana. Sehingga dengan peristiwa gempa yang terjadi bulan September kemarin yang hingga saat ini belum selesai merupakan peringatan bagi bangsa untuk lebih waspada terhadap bencana.
Boleh jadi di balik terjadinya bencana tersebut akan menjadikan Indonesia lebih baik di masa yang akan datang. Jepang menjadi Negara maju harus dicambuk dulu dengan bom atom yang dahsyat di Nagasaki dan Hirosima, begitu juga dengan Cina, dan Negara-negara maju lainnya.
Bukan Sekedar “Nilai”
Ika Romika
(Mahaswi Tarbiyah'06)
gambar: http://kalipaksi.files.wordpress.com/
Ujian, merupakan kegiatan rutin lembaga pendidikan. Ujian bermaksud mengetahui sejauh mana kemampuan peserta didik dalam menyerap ilmu yang disampaikan pendidik. Apabila mampu melaluinya dengan nilai bagus, hal itu menjadi indikasi keberhasilan seorang pendidik. begitu pula sebaliknya. Namun mayoritas peserta didik belum atau bahkan tidak menyadari apa sebenarnya yang diharapkan dari ujian. Mereka menganggap ujian sebagai ajang medapatkan nilai bagus. Walaupun harus menempuh berbagai macam cara..
Ketika itu, kami mengikuti Ujian Tengah Semester. Satu petugas yang menjaga dua ruangan sekaligus. Sehingga dalam waktu lama, petugas membiarkan kami mengerjakan ujian tanpa pengawasan. Dalam soal tertulis closed book.Semua orang juga tahu arti tulisan tersebut, yaitu tutup buku yang berarti di larang menyontek buku. Namun, apa yang terjadi di kelas kami? Sungguh mengerikan! mayoritas membuka buku dan mengabaikan closed book. Hati ini ngilu melihatnya. Ada apa dengan generasi muda Indonesia?. Apa yang ingin didapatkan? Apakah hanya karena sebuah nilai, Rela menodai kesucian majlis ilmu? Rela membohongi guru?
Namun, masih ada kelegaan dalam hati ini ketika seorang teman menyampaikan jika nilai baginya bukan segala-galanya. ”Bagi saya nilai tidak begitu berarti. Bagus atau jelek itu hal biasa, yang terpenting ilmunya,” ujarnya. Ditanya soal nyontek untuk nilai, cowok semester tiga tersebut mengatakan. ”lebih baik tidak usah kuliah, gak dapat ilmu. Cuma buang uang saja,” komentarnya. Lebih luas mahasiswa di sebuah universitas swasta itu menyatakan jika yang terpenting dalam perkuliahan adalah pengalaman. Sebab pengalaman merupakan guru yang terbaik dalam kehidupan.
Hal sama disampaikan Zakc, mahasiswa semester akhir Tehknik Informatika. ”Nilai bukan segalanya, banyak yang nilainya bagus tapi tidak bisa sukses di dunia nyata. Kurang bisa memenuhi kebutuhan,” ungkapnya. Meskipun nilai bukan segalanya, namun nilai dalam kuliah juga penting sebagai syarat menempuh mata kuliah selanjutnya. ”Nilai untuk menentukan cepat dan lambatnya kita kuliah. Jadi jangan disepelekan,” ujarnya. Zack mengatakan jika nilai dalam dunia kerja memang membantu tapi hanya sedikit. ”Yang terpenting dalam dunia kerja adalah jaringan. Jadi, kuliah sambil berorganisasi itulah cara untuk mendapatkan jaringan dan mengetahui dunia nyata,” usulnya.
Seorang teman yang telah bekerja menyampaikan bahwa, untuk mendapatkan pekerjaan nilai bagus mendapat prioritas. ”Nilai memang diprioritaskan. Tapi, yang lebih prioritas adalah kemampuan menyelesaikan tes, ” ungkapnya. Alumni Tekhnik Mesin tersebut menambahkan jika nilai harus diperjuangkan. Tapi harus dengan cara yang baik. ”Kita harus bisa mempertanggungjawabkan nilai yang dimiliki. Apa guna nilai bagus tapi tidak bisa membantu dalam karir kita, ”nasehatnya.
Kamis, 12 November 2009
Pendidikan dan Ekonomi Bangsa
Profesor Toshiko Konisuta, guru besar Waseda Unibersity Jepang, dalam suatu kesempatan bergengsi mengemukaakan, bahwa sember daya manusia (SDM) Indonesia sangat lemah untuk mendukung perkembangan ekonomi dan indutri. Hal ini disebabkan karena pendidikan tidak diletakkan sebagai panglima. Selama ini dari para polikus dan masyarakat awam hanya berorentasi untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berpikir panjang. (Sismono: 2006)
Kritikan tersebut tak mungkin dikemukakan tanpa sebab yang jelas. Karena pada kenyataannya Indonesia benar-benar mengalami krisis multidimensional. Krisis yang sudah bertahun-tahun menggerogoti bangsa. Yang berawal dari krisis moneter hingga akhirnya menjalar ke seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan krisis moral pun sudah mulai merajalela di berbagai penjuru Indonesia.
Padahal Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alam (SDA). Akan tetapi hal itu menjadi percuma jika Indonesia tidak mempunyai SDM yang bagus dan mumpuni. Sebab untuk mengelola SDA yang ada tersebut dibutuhkan manusia yang benar-benar kompeten dan professional dan mempunyai kemampuan yang mantap. Sementara SDM yang ada di Indonesia saat ini sangat lemah.
Maka jika ada yang bertanya, di manakah letak kekuatan suatu bangsa?. Maka tak salah jika sebagian ada yang mengatakan, kekuatan terbesar terletak pada kualitas SDM nya. Khususnya di era globalisasi yang selalu penuh dengan persaingan antarnegara. Karena saat itu wilayah bukanlah pembatas seseorang untuk mengakses berbagai macam informasi dan semua mempunyai kebebasan untuk mengembangkan potensi dirinya di manapun berada.
Indonesia selama ini masih terbelakang di beberapa bidang di berbagai Negara. Lihatlah laporan Human Development Index (HDI) Indonesia yang dibuat oleh United Nation Development Programme (UNDP) tahun 2005 yang dikutip Sismono, Indonesia ditempatkan pada peringkat 110 dari 177 negara, di bawah Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Brunai dan Singapore yang sesame Negara ASEAN. Vietnam berada di urutan 108, Filipina urutan ke-84, Thailand urutan ke-73, Malaysia urutan ke-61, Brunai Darussalam urutan ke-33, dan Singapore urutan ke-25.
Data HDI ini diukur dari indeks pendidikan, indeks kesehatan dan indeks perekonomian. Artinya bahwa faktor pendidikan menjadi faktor tepenting yang menentukan HDI Indonesia. Memang benar pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Misalnya data Depdiknas tahun 2005 tentang angka putus sekolah yang mencapai 1.122.742 anak dan angka buta aksara di Indonesia mencapai 15.414.211 orang.
Data di atas menunjukkan akan lemahnya pendidikan Indonesia. Yang jelas hal itu akan membawa pengaruh terhadap peradaban bangsa Indonesia itu sendiri, khususnya dalam perubahan moral sosial dan ekonomi masyarakatnya. Menurut Arifin (2007), pendidikan merupakan faktor yang paling efektif untuk perubahan sosial manakala pendidikan masyarakat tersebut ditingkatkan, diefektifkan, dikonstruksi dengan baik. John Dewey juga mengungkapkan hal yang sama, pendidikan adalah metode fundamental untuk memajukan dan memperbarui masyarakat.
Penentu ekonomi
Bukan berarti orang yang berijazah tinggi di sini akan memperoleh ekonomi yang layak. Akan tetapi yang dimaksud pendidikan di sini, pendidikan yang bermakna luas, baik pendidikan formal, non formal maupun informal dan bukan hanya terbatas pada pendidikan di sekolah. Hal ini memang perlu dipahamkan kepada masyarakat, karena selama ini banyak orang yang menganggap pendidikan hanya terbatas pada pendidikan formal di sekolah saja. Padahal pendidikan formal tidak terlalu signifikan dalam menentukan tarif ekonomi yang layak ketika sudah kerja.
Kebanyakan masyarakat yang sukses dalam memnempuh kariernya dalam bisnis adalah mereka yang benar-benar banyak memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar di luar sekolah. Sebab, untuk membangun ekonomi yang baik tidak terlalu mengandalkan kecerdasan intelgensi (IQ), akan tetapi lebih banyak pada kecerdasan emosionalnya (EQ).
Dalam teori pendidikan juga disebutkan bahwa ranah pendidikan bukan hanya pada pengembangan IQ saja. Seperti yang diungkapkan oleh Bloom, bahwa ada tiga ranah yang perlu dicapai oleh pendidik, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Teori yang sama juga dikatakan oleh Ary Ginanjar, ada tiga kecerdasan manusia yang perlu dikembangkan dan masing-masing mempunyai peran yang signifikan dalam pengembangan potensi dirinya, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Dalam dunia kerja, kecerdasan IQ bukanlah andalan satu-satunya yang dibutuhkan. Akan tetapi lebih pada penkeanan kecerdasan emosional dan spiritualnya. Dalam hal ini seseorang dituntut untuk mempunyai pengalaman yang banyak dalam hal bisnis (berdagang) demi membangun ekonomi yang layak di masa depan.
Menurut Djohar (dalam Jamila: 2007) bahwa berdasarkan penelitian, pendidikan selama ini baru berada pada taraf pengembangan kemmpuan kognitif, yang sifatnya mengembangan fungsi reproduktif. Pendidikan belum mampu membangun etos kerja, jati diri dan percaya diri, untuk menghadapi masalah-masalah yang nyata di masayakat.
Hal ini juga terbukti dengan adanya Ujian Akhir Nasional (UAN) yang mengedepakan nilai-nilai nominal (angka) yang tertulis di atas kertas saja. Kelulusan siswa ditentukan oleh tinggi rendahnya nilai ujian akhirnya. Padahal ujian yang demikian hanya menyentuh aspek kognitifnya saja. Ironis lagi, tak jarang ditemukan kecurangan-kecurangan dalam mengerjakan soal-soal UAN, misalnya guru memberikan jawaban kepada siswanya. Yang demikian itu tentunya dapat merusak nilai-nilai kemandirian siswa dalam enyelesaikan sebuah masalah, sehingga pada akhirnya dapat berefek pada masa depan siswanya, khususnya dalam ekonomi.
Untuk membangun ekonomi yang baik di masa depan, saat ini bangsa membutuhkan pendidikan kemandirian. Dengan pendidikan kemandirian terhadap siswa diharapkan di masa depan ia tidak bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan suatu masalah dan dalam mengembangan kualitas ekonomi bangsa. Sehingga potensi SDA Indonesia yang melimpah tidak disia-siakan dan diberikan kepada orang lain (orang asing). Dan pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kembali pendidikan bangsa, dan mempioritaskan pendidikan di antara aspek-aspek yang lain, karena pendidikan adalah penentu kualitas ekonomi di masa depan.


