Rabu, 09 Desember 2009
KITAB KUNING BERBICARA SEKS
“KITAB KUNING” BERBICARA SEKS
Judul buku : Fiqh Seksualitas; Panduan Islam dalam Berhubungan Intim Menurut
Kitab Kuning
Penulis : Abdul Wahid Shomad
Penerbit : Insan Madani
Cetakan : Agustus 2009
Tebal : 222 halaman
Oleh: Muhammad Rajab*
Buku yang ditulis oleh Abdul Wahid Shomad ini merupakan sebuah jawaban terhadap perkembangan permasalahan kehidupan, khususnya dalam bidang seksualitas. Penulis di sini lebih memaknai seks bukan hanya pada hubungan intim suami isteri saja, akan tetapi lebih pada bagaimana hubungan antara dua gender yang berbeda yakni antara laki-laki dan perempuan pra dan pasca menikah.
“Kitab kuning” yang selama ini diidentikkan dengan pembahasan masalah-masalah klasik, seperti ritualitas seorang hamba dalam hubungannya dengan Tuhan-Nya, ternyata anggapan tersebut tidak bisa dikatakan benar secara utuh. Pasalnya, “kitab kuning” juga ternyata berbicara tentang hubungan seseorang dengan lawan jenis. Buku ini berusaha mengungkap sebuah data yang didapat melalui kajian pustaka oleh penulis tentang pandangan “kitab kuning” tentang seks.
Permasalahan seks merupakan sebuah permasalahan yang sekarang menjadi hangat di telinga masyarakat. Pasalnya, Indonesia sering kali dihadapkan dengan kasus-kasus perilaku asusila yang dilakukan pra nikah oleh para remaja. Free sex sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di tengah-tengah mereka.
Salah satu yang menjadi pembahasan buku ini adalah bagaimana idealnya hubungan seseorang pra nikah. Kaitannya dengan pacaran maka buku ini memandang bahwa pacaran bisa boleh dan bisa juga tidak boleh, bergantung pada bagaimana seseorang memaknai pacaran. Kalau pacaran dimaknai hanya dengan ungkapan cinta atau kasih sayang tanpa melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan agama, seperti pegangan tangan, berpelukan dan semacamnya, maka pacaran dalam konteks ini boleh-boleh saja. Akan tetapi jika pacaran dimaknai atau dilaksanakan dalam bentuk luapan cinta yang diungkapkan melalui pegangan tangan, ciuman, pelukan, atau bahkan hubungan seksual (intim) maka yang demikian itu adalah yang tidak diharamkan.
Sebelum melakukan ikatan pernikahan, Islam menganjurkan para pemeluknya untuk melihat (nadhar) terhadap calon pasangannya. Seorang laki-laki yang hendak ingin menikah dengan wanita, maka laki-laki tersebut dianjurkan untuk melihat si wanita calonnya tersebut. Walaupun batasan melihat di sini terdapat banyak perbedaan pendapat.
Bagi laki-laki yang sudah siap untuk melakukan pernikahan, maka Islam sangat menganjurkannya untuk segera menikah. Pasalnya, hal itu akan dapat membentengi dirinya dari perbuatan zina. Dalam hal ini penulis buku ini mengklasisfikasikan zina itu ada dua macam, yaitu zina kering dan zina basah. Zina kering adalah perbutan zina yang dilakukan oleh seseorang melalui pandangan anggota badannya selain dengan kehormatannya. Sedangkan zina basah adalah zina yang dilakukan dengan hubungan intim sebelum melakukan ikatan pernikahan.
Ulama mengklasifikan hukum nikah kepada beberapa bagian. Nikah bisa menjadi wajib, sunnah, makruh atau bahkan haram, tergantung pada kondisi seseorang tersebut. Namun, pada dasarnya hukum nikah adalah mubah (boleh). Menurut Prof. Dr. Muhammad Abu Zahroh, mubah adalah sesuatu yag pada asalnya tidak berkonsekuensi pahala atau dosa bila dikerjakan atau tidak dikerjakan. Akan tetapi kembali ke awal, jika dilihat dari aspek eksternal nikah bisa berubah hukum seperti di atas.
Terlepas dari beberapa hukum nikah di atas, ada beberapa hikmah atau manfaat yang bisa diambil dari adanya ikatan pernikahan. Secara umum hikmah menikah adalah melestarikan bumi (regenerasi manusia), dalam Islam regenerasi manusia harus diwujudkan melalui pernikahan. Namun secara khusus hikmah menikah menurut Abdul Wahid adalah pertama, meningkatkan populasi manusia yang akan mempermudah proses pemenuhan kebutuhan hidup dan pembangunan di muka bumi dengan semangat kebersamaan hidup.
Kedua, untuk mempermudah pembangunan dan pelestarian planet bumi, karena menikah manusia dapat berkembang biak. Ketiga, Mempermudah dalam mengatur kehidupan keluarga yang merupakan asal dari kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Keempat, Membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, agar bisa berbagi rasa menumpahkan rasa cinta bersama lawan jenisnya. Kelima, Menjaga keturunan manusia, yang di dalamnya juga menjaga hak waris karena agama tidak suka jika ada orang yang tidak diketahui keturunan atau asal usulnya. (halaman 59)
Buku Fiqh Seksualitas; Panduan Hubungan Islam dalam Berhubungan Intim Menurut Kitab Kuning ini juga tak hanya membahas hubungan antarlawan jenis pra nikah. Akan tetapi lebih detail lagi menjelaskan tentang huungan suami-isteri. Aspek seksualitas merupakan sorotan utama buku ini dalam menjalankan hubungan rumah tangga. Tentunya yang dijelaskan di sini adalah prespektif Islam.
Misalnya, buku ini memandang bahwa hubungan seksual (hubungan intim) antara suami isteri merupakan salah satu bagian yang menjadikan hubungan suami isteri tersebut harmonis. Pasalnya, banyak perselingkuhan terjadi hanya gara-gara tidak mendapatkan kenyamanan di antara suami isteri.
Ada juga pembahasan penting yang mungkin ini sebagai bentuk tambahan wawasan bagi para pembaca yaitu hukum nikah beda agama. Buku ini menyajikan perbedaan pendapat para ulama, baik ulama klasik maupun ulama kontemporer tentang nikah beda agama. Untuk lebih konprehensif dalam memhami permasalahan-permasalahan di atas, Anda bisa membaca buku ini lebih mendalam. Yang pada intinya buku ini mengajak kita untuk memahami bahwa ternyata Islam mengatur semua aspek kehidupan, termasuk di dalamnya masalah seks. Sehingga buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh setiap kalangan, khususnya bagi mereka yang ingin menjalankan hubungan rumah tangga.
Minggu, 06 Desember 2009
MENULIS BERITA ITU GAMPANG
Telah dimuat di Malang Post, 22 November 2009
Judul Buku : Panduan Menulis Berita
Penulis : Husnun N Djuraid
Tebal : 208 hal
Tahun Terbit : 2009
Penerbit : UMM Press, Malang
Peresensi : Isna Hidayati Effendi*
Salah satu tugas pokok jurnalis atau wartawan adalah menyampaikan fakta-fakta yang ada melalui berita dalam rangka melayani publik itulah. Ada kebanggan tersendiri bagi seorang jurnalis jika ia bisa menolong orang dengan menyampaikan berita tentang dunia sekitar mereka.
Profesional menjadi tuntutan seorang wartawan di tengah globalisasi zaman dan kebebasan pers yang sering disalahgunakan. Ancaman profesi wartawan ke depan semakin besar melihat masyarakat yang semakin melek hokum. Hal inilahyang sering memunculkan protes terhadap wartawan walaupun kesalahan yang dilakukan sangat sepele, seperti salah ketik, salah cetak, apalagi salah dalam memberitakan.
Buku yang berjudul “Panduan Menulis Berita” oleh Husnun N. Djuraid ini berusaha memaparkan teori–teori jurnalistik. Lahirnya buku tersebut berangkat dari besarnya minat masyarakat untuk mempelajari jurnalistik yang tidak diimbangi dengan kesiapan sarana dan prasarana seperti minimnya buku jurnalistik sebagai referensi.
Yang terpentinting dalam menulis berita adalah mengetahui unsure-unsur berita terlebih dahulu yang akan digunakan sebagai panduan untuk memutuskan suatu kejadian, informasi atau keadaan yang layak untuk diberitakan. Bersifat aktual, ada unsur kedekatan, penting, kejadian yang dianggap luar biasa, unsur human interest, progresif, dan lain sebagainya merupakan unsur dalam berita yang dibahas dalam buku yang berwarna paduan putih dan coklat pada covernya.
Bagi penulis pemula, di sini penulis memberikan cara penulisan berita, baik penulisan berita langsung (straight news) maupun berita feature. Bagi kebanyakan penulis pemula yang mengalami kesulitan dalam mulai menulis, ada pelajaran dasar yang wajib dipenuhi yaitu 5 W + 1 H (what, where, when, who, why, dan How). Setelah identifikasi bahan-bahan berita yang terkumpul sesuai 5 W + 1H maka akan muncul kerangka berita yang akan ditulis. Tentu pelajaran dasar ini sangat membantu dan memudahkan penulis pemula.
Dari enam pembahasan, pembahasan penulisan feature nampak lebih menarik. Tulisan panjang yang mengungkap dan mengambarkan peristiwa secara gamblang dengan dibubuhi ungkapan kreatifitas penulisnya tersebut dibahas secara mendalam. Khususnya pada pembahasan lead feature, macam-macam dan penjelasan lead disajikan dalam bentuk contoh langsung yang diambil dari berita-berita surat kabar yang telah terbit. Contoh-contoh berita yang dikutipkan tersebut kemudian dikupas dan dijelaskan satu per satu nilai dan unsur feature yang terdapat dalam berita.
Seperti pada pembahasan jenis lead bercerita (hal. 101), dikutipkan langsung tulisan wartawan yang melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia-Herzegovina pecahan Yogoslavia-yang dilanda perang saudara dengan Serbia. Terjadi pembantaian brutal yang dilakukan tentara Serbia terhadap pendudukan Bosnia. Ribuan orang menjadi korban kekejaman tentara Serbia. Bosnia-Herzegovina yang mayoritas penduduk muslim, menjadi objek kekejaman tentara Serbia.
Kemudian dipaparkan nilai-nilai berita dari cerita tersebut. Yakni selain mengaduk emosi pembaca melalui berbagai penderitaan yang dialami masyarakat Bosnia, cerita ini juga berusaha mengangkat sisi human interest, melalui latar belakang agama.
Kelebihan lead bercerita sangat efektif untuk menggungkap sisi kemanusiaan dari sebuah peristiwa. Kelebihan dari lead ini lebih mudah menggaet pembaca akan pembaca merasa seolah-olah menjadi bagian dari cerita tersebut. Karena penulis feature yang baik merupakan gabungan antara wartawan dan sastrawan. Dengan kemampuan kata-kata dan merangkainya dalam kalimat yang indah bisa membawa pembaca untuk terlibat dalam cerita. Namun tak semua cerita bisa dibuat lead seperti itu. Wartawan harus bisa mengukur, sejauh mana sebuah peristiwa bisa diberi lead bercerita.
Meliput berita merupakan bagian dari proses pembuatan berita, dalam hal ini wartawan tidak hanya dituntut untuk menguasai masalah namun dalam juga mempersiapkan hal penampilan dan memiliki rasa percaya diri. Tidak harus berpakaian resmi melainkan sopan dan sesuai dengan acara yang akan diliput dan lingkungan. Era wartawan yang tampil dengan busana yang lusuh tampaknya sudah bergeser pada penampilan yang memperhatikan situasi dan kondisi. Dengan penampilan yang baik ditambah dengan rasa percaya diri, seorang wartawan bisa menghadapi sumber berita dengan tenang.
Bagi pembaca yang sedang atau mendalami penulisan berita di media, buku ini setidaknya akan bisa menambah referensi dan kisi-kisi penulisan. Didasari oleh segudang pengalaman penulis sebagai wartawan media, buku ini disusun dengan sangat lugas, aplikatif dan mudah dipahami. Selain dibubuhi contoh-contoh tulisan yang sesuai dengan standarisasi penulisan baik media cetak maupun elektronik, juga dilampiri dengan Kode Etik Jurnalistik, Undang – Undang Pers dan standarisasi penulisan di surat kabar.
Tentunya buku ini sangatlah layak sebagai salah satu buku wajib bagi para calon-calon kuli tinta yang handal dan profesional. Sejalan dengan perkembangan media massa yang cukup pesat, dimana beberapa perguruan tinggi membuka jurusan komunikasi dengan konsentrasi jurnalistik, bagi mahasiswa layak juga sebagai referensi buku pegangan mata kuliah.
Secara keseluruhan buku ini tersusun secara sistematis yang mempermudah pembaca dalam memulai menulis berita. Karena sebenarnya menulis berita itu tidak sulit dan pada dasarnya setiap orang yang sudah mengenyam pendidikan punya kemampuan untuk menulis. Hanya dibutuhkan kemauan untuk memulai menulis yang kemudian difomulasikan dengan teori-teori penulisan yang ada.
*Penulis adalah
Penggiat Studi Islam dan Penelitian (FORSIFA)
Universitas Muhammadiyah Malang
Sabtu, 05 Desember 2009
SEBUAH KESAKSIAN TENTANG GONTOR

Dimuat di Harian Malang Post, 06 Desember 2009
Judul Buku : Wisdom of Gontor
Penulis : Tasirun Sulaiman
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan I : September 2009
Tebal : 230 halaman
Peresensi : Muhammad Rajab*
Siapa yang tidak mengenal Gontor. Mayoritas penduduk Indonesia, khususnya yang muslim sudah mengenal nama tersebut. Sebuah pondok pesantren yang pusatnya terletak di Ponorogo Jawa Timur. Walaupun pondok modern yang didirikan 1926 ini tempatnya di daerah terpencil dan diapit oleh dua pegununngan di kawasan selatan kota Ponorogo. Tapi kesunyian dan keterpencilan itu tiba-tiba menggema dan menggemuruh khususnya di tanah air Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, kemudian nama Gontor menjadi semakin kian riuh dengan munculnya tokoh-tokoh, seperti Dr. Nurcholis Madjid, Kafrawi ridwan MA., Penasehat Golkar Pusat, Dr. Hafidz Basuki, esin penggerak Depag, Emha Ainun Nadjib, yang melesat dengan lautan jilbab hingga Kiai Kanjeng, Habib Chirzin, budayawan kondang asal kota Budeg dan KH. Hamam Ja’far dengan pesantren Pabelan yang melejit dengan Dr. Komaruddin Hidayatnya.
Setelah itu muncul meteor-meteor baru Gontor menghambur dengan hebatnya. Langit-langit Indonesia menjadi taman meteor yang menyenangkan tapi juga meletupkan suatu kekaguman yang tersimpan di balik dada. Dr. Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR RI, Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah, KH. Hasyim Muzadi, Ketua PP NU, Maftuh Basyuni, Menteri Agama, dan banyak lagi yang sekelas doktor yang menjadi penggerak dan pendobrak perjuanngan bangsa Indonesia.
Gontor dengan rupa dan pernak-perniknya telah memberikan pesona dan kekaguman tersendiri. Apalagi ketika peristiwa 11 September 2001 yang mengguncang dunia dan membuat Gorge Bush yang pernah singgah di hotel Salak, Bogor menjadi berang. Perang melawan teorisme pun dideklarasikan lalu orang-orang pun kaget sekali ketika Kiai Abu Bakar Ba’asyir disebut-sebut sebagai amir dari Jama’ah Islamiyah dan dituduh terlibat di balik bom-bom yang meledak di Indonesia. Dan Kiai Abu Bakar Ba’asyir adalah alumni Gontor. Fakta membuktikan bahwa Hidayat Nur Wahid dan beberapa alumni Gontor lain yang senior tidak takut-takut menyambangi Ba’asyir yang saat itu menjadi tahanan kepolisian. (hal. 21)
Namun apapun rupa bentuk alumni Gontor, tetap masih ditemukan sebuah warna yang masih bisa ditarik benang merahnya. Benang merah tersebut bersumber dari wisdom atau kearifan yang diajarkan Gontor, baik dari sikap dan keteladanan KH. Ahmad Sahal maupun KH. Imam Zarkasyi atau ajaran yang menjadi visi Gontor yang menyerupai semangat kebersamaan walaupun berbeda golongan, yang kemudian tercantum dalam motto Gontor “berdiri di atas dan untuk semua golongan”.
Buku Wisdom of Gontor yang ditulis oleh alumnus Gontor sendiri, Tasirun Sulaiman ini hadir untuk menjadi kesaksian yang bisa memberikan pemandangan dan lanskap serta nuansa baru bagi mereka yang ingin melihat Gontor. Atau bagi yang pernah belajar di sana, bisa saja buku ini membangkitkan nostalgia untuk mengenang dan mengingat kembali masa lalunya ketika berada di Gontor. Yang kemudian bisa dijadikan motivator kembali untuk mendapatkan sebuah kearifan sebagaimana yang telah diajarkan Gontor.
Buku ini telah banyak mendapatkan komentar baik dari alumni senior Gontor sendiri ataupun dari tokoh-tokoh yang lain. Pasalnya, memang benar Gontor telah mengajarkan nilai-nilai religiusitas dan humanitas di tengah-tengah perbedaan umat. Misalnya pengakuan Hidayat Nur Wahid, “moto dan Panca-Jiwa adalah ruh Pondok Modern Gontor. Trimurti, pendiri Gontor alm. KH. Ahmad Sahal, alm. KH. Zaenuddin Fananie, dan alm. KH. Imam Zarkasyi telah mencontohkan dalam amalan. Saya secara pribadi sangat terkesan dengan moto dan Panca-Jiwa. Dan kita dapat membacanya di buku Wisdom of Gontor ini”.
Hal menarik yang terdapat dalam buku ini adalah penjelasan tentang kearifan-kearifan yang ada di Gontor. Baik dalam perkataan-perkataan yang dilukis di atas dinding kelas ataupun dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para santri dan astatidz dan para pembimbing yang ada di Gontor. Boleh dikatakan buku ini adalah sebuah gudang penyimpanan yang berisi kearifan-kearifan (wisdom) yang ada di pondok tersebut.
Ada sebuah cerita menarik. Suatu kali, siswa akhir dari suatu angkatan di Gontor , yang memiliki keahlian membuat letter atau kaligrafi, menghiasi gedung aula pertemuan dengan tulisan yang mengejutkan “berbuat baik jangan sekali, berbuat buruk baik sekali” Tulisan yang menghiasi ruang pertemuan itu tentu saja mematik dan mengejutkan setiap orang yang melihatnya. Tidak saja dari kalangan siswa, tapi guru dan pemimpin Gontor saat itu. Berbuat buruk baik sekali? Tentu saja pernyataan itu sepintas dan selayang pandang membuat orang terprovokasi dan memberontak. Tapi, jika direnungkan, tulisan kreatif tersebut memberikan makna yang dalam. Dia ingin berpesan: “Kalau memang pernah berbuat buruk, maka cukuplah sekali saja!” tapi apabila kalimat yang kedua yang dipilih tentulah kurang gagah. (hal. 37)
Apa maksud di balik pernyataan di atas?. Pernyataan di atas sangat sederhana namun mengandung makna yang mendalam. Artinya, bahwa untuk berbuat baik jangan hanya sekali saja. Pasalnya, untuk menjadi orang baik tidak cukup dengan kebaikan yang dikerjakan hanya sekali saja, akan tetapi butuh kontinuitas. Sedangkan berbuat buruk cukuplah hanya sekali. Jangan sampai diulang-ulang berkali-kali. Tidak dapat dipungkiri memang, karena manusia tak ada yang pernah luput dari salah dan dosa. Adapun pesan utama dari pernyataan di atas adalah, “jadilah orang baik”.
Pada intinya, buku ini merupakan sebuah kesaksian tentang pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor. Berbagai macam kearifan diangkat dalam buku ini, mulai dari kisah-kisah lucu hingga nasehat-nasehat berharga dari para pendiri dan asatidz di Gontor. Menariknya lagi, buku ini ditulis dan dikemas dengan bahasa yang sangat sederhana sehingga akan memudahkan pembaca untuk mencerna isinya. Agar lebih tahu secara mendalam tentang kearifan apa saja yang ada di Gontor, pembaca bisa lebih dalam lagi menelusuri isi buku ini.
*Peresensi adalah
Peneliti di Forum Studi Islam (Forsifa) Unmuh Malang
Jumat, 04 Desember 2009
AGAR TUHAN MENYAPA KITA

Judul buku : Menyerap Energi Ketuhanan
Penulis : Musa Kazhim dan Alfian Hamzah
Penerbit : Hikmah
Cetakan I : 2009
Tebal : 264 halaman
Peresensi : Muhammad Rajab*
Kebersamaan Tuhan dalam diri dan mendapatkan bimbingan-Nya adalah harapan setiap manusia, khususnya mereka yang muslim. Walaupun pada kenyataannya mereka terkadang lalai dari Tuhan mereka. Namun, hakikatnya dalam diri dan hati nurani mereka tetap ada keinginan untuk merasakan kenikmatan bersama dengan bimbinngan Tuhan. Hal inilah yang menjadikan kebanyakan orang mencari banyak jalan menuju ketenangan bersama Tuhan.
Saat ini banyak orang yang berlomba-lomba ingin mendapatkan ketenangan dan kenikmatan dengan mengarungi nilai-nilai spirituallitas keagamaan. Seperti misalnya, muncul sekarang pelatihan solat khusu’ oleh Abu Sangkan, pelatihan atau training kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) yang dibimbing oleh Ary Ginanjar Agustian. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan ketenangan batin bersama ilahi.
Ironisnya, banyak tindakan tidak wajar yang dilakukan oleh sebagian kalangan penduduk, baik di Indonesia sendiri ataupun di negara lain dikarenakan ketidakpuasan terhadap hidup yang ditempuhnya. Seperti, bunuh diri. Kejadian semacam ini bukan hal asing lagi di telinga kita. Selain ketidakpuasan terhadap hidup mereka, juga disebabkan oleh kekososngan mereka dari energi ketuhanan. Dalam artian, bimbingan ketuhanan dalam diri mereka sangat jauh dikarenakan perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukannya.
Buku yang berjudul Menyerap Energi Ketuhanan yang ditulis oleh Musa Kazhim dan Alfian Hamzah ini merupakan sebuah jawaban bagaimana mendapatkan kebersamaan dengan Tuhan melalui doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Selain itu, buku ini juga mengajak kita bagaimana menyerap dan mendapatkan energi ketuhanan sehingga bisa nampak dan terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari kita dalam bentuk perbuatan dan amal shaleh.
Selain itu, buku ini akan memberi kita resep ampuh memiliki kerelaan dan kesiapan menghadapi pasang surut kehidupan. Hal ini terlihat dari doa-doa yang tertulis ada dalam buku ini. Tak sebatas doa dan terjemahannya saja, tapi buku ini memberikan syarh (penjelasan) yang komprehensif tentang makna dan kandungan doa tersebut. Sehingga bisa memudahkan pembaca untuk memahami kandungan dan intisari dari do’a-do’a yang ada. Menariknya, buku ini dilengkapi dengan kisah-kisah tentang kekuatan doa para hamba Allah SWT.
Misalnya, ada sebuah kisah yang disebutkan dalam buku ini terkait dengan kekuatan sebuah doa. Ini kisah seorang pelacur di Mesir. Menjelang malam, dia biasa membuka jendela biliknya untuk menjerat hidung belang yang melintas di jalanan. Dia tak pernah gagal menaklukkan siapapun yang menatapnya. Parasnya memang jelita laksana mantara yang mematikan.
Suatu kali, seorang lelaki ‘abid (ahli ibadah) melintas di depan rumahnya. Tak sengaja ‘abid ini melirik ke wajah pelacur jelita tersebut. Kontan kedua kakinya tak mampu berjalan. Dia bergegas menghampiri rumah pelacur itu dengan nafsu yang membuncah. Di depan rumah seorang penjaga menahannya. “Berikan 10 dinar terlebih dahulu baru kuizinkan masuk”. Karena tak punya uang sebanyak itu, ‘abid lari ke pasar terdekat menjual barang berharga miliknya dan kembali ke tempat tadi. Setelah masuk ke bilik pelacur dan hendak membuka pakainnya, tubuhnya tiba-tiba bergetar keras. Dia teringat Allah SWT.
“Apa yang terjadi padamu,” kata sang pelacur. “Buang pikiran aneh-aneh dan nikmatilah tubuhku.” Tapi ‘abid itu menampik dan mengatakan, “di sini Allah hadir dan mengawasi, aku takut kepada-Nya.” Keheranan pelacur itu terus bertambah karena banyak orang yang menginginkan tubuhnya sementara mereka tidak punya uang, sementara si ‘abid sudah membayar tapi kehilangan hasratnya kepadanya. “Biarkan aku pergi, uang yang telah kubayar akan kuhadiahkan kepadamu,” kata sang ‘abid kepada pelacur itu.
Begitu keluar si ‘abid meraung seperti orang gila. Dia menyesali niatnya berbuat dosa dan ketidakmampuannya menahan hawa nafsu. Melihat kenyataan itu sang pelacur terkulai lemas dan membatin “celakalah diriku!, dia adalah hamba Allah yang tak pernah berbuat dosa. Baru berniat melakukan dosa kondisinya mendadak berubah seperti itu, lalu bagaimana dengan diriku yang bertahun-tahun telah melakukan dosa seperti ini, alangkah celakanya diriku!,”
Pelacur itu pun larut dalam penyesalan. Dia bertekad menemukan ‘abid itu untuk menyatakan tobatnya. Terlintas pula di benaknya kalau-kalau si ‘abid ini mau menikahinya. Dia akhirnya menemukan alamat ‘abid itu. Tapi pertemuan mereka berakhir tragis. Begitu melihat pelacur di depan pintu rumah, sang ‘abid berteriak ketakutan dan jatuh pingsan. Tak berapa lama bahkan dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Pelacur itu tak menduka keadaan akan seperti ini. Dalam linangan air mata, dia berdoa, “Ya Allah, aku menyesali seluruh dosaku yang lalu. Aku mendatangi ‘abid ini untuk menikahinya dan menutup lembar masa laluku. Kini kau ambil dia, maka ambillah juga nyawaku agar aku bisa bertemu dengannya di alam sana.” Selesai mengucapkan doanya, Allah mencabut nyawa sang pelacur.
Kisah itu merupakan salah satu bagian dari kisah-kisah hikmah yang ada dalam buku ini. Dan salah satu letak keindahan dan keunikan buku ini adalah pada kisah-kisah tersebut. Pasalnya, setiap dalam pembahasan buku ini disertai dengan satu kisah yang mengandung banyak pelajaran untuk kehidupan seorang yang ingin mengharapkan kebersamaan dengan Tuhan.
Buku ini juga disertai dengan lampiran doa-doa yang bisa kita baca setiap hari untuk mendapatkan kemuliaan dan ketenangan bersama Tuhan. Pada intinya buku ini memberikan solusi bagi siapa saja yang ingin mendapatkan ‘sapaan’ atau bimbingan Tuhan. Sehingga, sudah selayaknya buku ini menjadi konsumsi setiap muslim, khususnya di tengah-tengah kondisi umat yang sudah mulai jauh dari nilai-nilai spiritualitas.
Rabu, 18 November 2009
ISLAM PEWARIS SAINS MODERN

Judul buku : Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern
Penulis : Ehsan Masood
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama : 2009
Tebal : 183 halaman
Oleh: Muhammad Rajab*
Islam di abad pertengahan mengalami kemajuan peradaban yang luar biasa. Sehingga dapat dikatakan zaman tersebut adalah zaman keemasan Islam. Pasalnya, Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat itu menjadi kebanggaan umat Islam seluruh dunia. Bahkan tokoh Barat pun mengakui akan kemajuan peradaban Islam saat itu.
Salah satu pengakuan tersebut disampaikan oleh Pangeran Charles dalam pidatonya di Oxford University, 27 Oktober 1993. Dia mengatakan, “bila ada banyak kesalahpahaman di dunia Barat tentang hakikat Islam, maka banyak juga ketidaktahuan tentang utang kebudayaan dan peradaban kita kepada dunia Islam. Saya rasa ini adalah kegagalan yang berakar dari ditutupnya sejarah yang kita warisi selama ini”. (halaman 1)
Warisan sains Islam zaman pertengahan yang paling dikenal hingga saat ini sistem angka Arab. Sistem Angka yang juga digunakan di negara-negara barat ini mengalahkan sistem angka Romawi. Namun buku yang ditulis oleh Ehsan Masood ini menunjukkan bahwa sains Islam jauh lebih hebat dari hanya sistem Angka, dan bahkan sangat berpengaruh sehingga menjadi dasar sains Eropa Barat yang muncul belakangan.
Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Zarqali, dan masih banyak lagi ilmuwan muslim lainnya begitu terkenal di dunia ilmiyah Eropa karena karena karya-karya mereka menjadi acuan sains Eropa. Buku al-Qanun Fi al-Thibb karya Ibnu Sina menjadi standar sejumlah universitas di Eropa selama berabad-abad. Buku al-Kitab al-Mukhtasar Fi Hisab al-Jabr Wal Muqabala karya Al-Khawarizmi menjadi dasar aljabar modern.
Dalam buku yang berjudul Science and Islam A Histoy oleh Ehsan Masood yang diterjemahkan menjadi Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern ini memperlihatkan mengapa imperium Islam berhasil memajukan sains sehingga menghasilkan karya-karya yang menakjubkan bahkan untuk ukuran masa kini. Dan lewat buku ini pula kita bisa mengetahui bahwa keyakinan agama dan ajaran agama bisa menjadi pendorong kemajuan sains Islam dalam banyak disiplin Ilmu.
Penulis buku ini memandang bahwa kemajuan Islam saat itu dipengaruhi oleh pandangan umat Islam terhadap sains modern. Yang mana ketika itu Islam mempunyai hubungan yang erat dengan sains modern. Kebutuhan agamalah yang telah membantu perkembangan pengetahuan yang baru. Dan saat berbagai sains mulai berkembang, para pemuka agamalah yang mendorong para ilmuwan pertama untuk menggunakan standar yang sama untuk membuktikan keabsahan hasil karya ilmiyahnya.
Hal ini kemudian dibuktikan dengan kemajuan Islam yang dahsyat saat itu dalam bidang sains modern yang saat ini banyak dikembangkan oleh Barat. Sebagai contoh adalah ahli fisika yang tinggal di Kairo bernama Ibnu al-Nafis telah menemukan sirkulasi paru-paru, pada abad ke-13. Insinyur Andalusia Abbas bin Firnas telah menemukan teori penerbangan dan diyakini telah melakukan percobaan terbang yang sukses enam abad sebelum Leonardo menciptakan ornitopternya yang terkenal. Dan di Kufah, Irak, Jabir bin Hayyan (dilatinkan menjadi Geber) adalah seorang yang meletakkan dasar-dasar ilmu kimia sekitar 900 tahun sebelum Boyle.
Lalu ada juga Hasan Ibnu al-Haitsam ahli fisika eksperimental abad ke-11 yang memperbaharui pemahaman kita mengenai indera penglihatan dan diakui menjadi pelopor penciptaan alat penangkap gambar (camera obscura) selain menulis dan meneliti pergerakan planet.
Selain itu, dalam buku yang diterjemahkan oleh Fahmy Yamani ini kita juga akan bertemu dengan para pelindung atau yang mendorong para ilmuwan tersebut untuk berkarya. Kalifah dan gubernur seperti Al-Ma’mun dan Dinasti Abbasiyah Sunni dan Al-Hakim dari Dinasti Fatimiyah Syi’ah yang memerintah Kairo mulai tahun 996 samapai 1021 M. Dan masih banyak lagi penguasa yang memperkerjakan para penasehat sains pribadi, membangun perpustakaan dan observatorium dan bahkan secara langsung mengambil bagian dalam berbagai percobaan sains.
Tenryata tidak hanya di bidang sains Islam berkembang saat itu, Islam juga mengalami kemajuan dalam hal pemikiran yang semuanya sebenarnya memberikan pengaruh terhadap pemikian umat Islam sehingga umat Islam bisa maju di berbagai aspek. Misalnya, muncul pemikir dan ahli agama bernama Abu Hamid Al-Gazali yang menulis polemik sangat terkenal, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf). Dan banyak lagi pemikir Islam seperi Ibnu Rusyd, Alfarabi, Ibnu Khaldun dan lain sebagainya.
Buku yang ditulis oleh Ehsan Masood ini hakekatnya membongkar hutang Barat terhadap dunia Islam yang berupa sains modern. Pasalnya, pasca perang Salib buku-buku umat Islam dihancurleburkan oleh kaum Kristiani kemudian mereka mengambil buku-buku yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan sains dan dikembangkan di dunia Eropa.
Selain itu, buku ini juga berusaha memberi pencerahan kepada umat Islam sekarang, bahwa Islam sebenarnya sangat akrab dengan ilmu pengetahuan. Pasalnya, umat Islam saat ini banyak yang memandang sebelah mata terhadap ilmu pengetahuan dan sains modern. Mereka lebih senang kalau hanya berdiam diri di masjid beribadah kepada Allah daripada melakukan penelitian-penelitian yang memberikan pencerahan kepada seluruh manusia. Padahal ibadah tidak hanya diam di masjid, melakukan penelitian pun yang dilakukan untuk kepentingan masyarakat termasuk dari bagian ibadah.
Menariknya, buku yang menjelaskan gambaran keemasan imperium Islam abad pertengahan ini disertai denga bukti-bukti gambar atau foto sejarah yang menjadi penguat pembahasannya. Dan Pembaca akan lebih dalam lagi mengetahui akan kejayaan Islam dengan menelaah buku ini secara komprehensip. Sehingga, sudah selayaknya buku ini menjadi konsumsi umat Islam sekarang, baik dari kalangan akademisi atau masyarakat luas.
Kamis, 12 November 2009
REFORMASI HUKUM SUATU TUNTUTAN
Judul Buku : Reformasi Hukum; Rekontruksi Kedaulatan Rakyat dalam
Membangun Demokrasi
Penulis : Sulardi, SH., MH.
Penerbit : Intrans Publishing
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal : 192 halaman
Peresensi : Muhammad Rajab*
Buku ini ditulis berangkat dari keprihatinan penulis atas belum terselesainya reformasi hukum di Indonesia. Proses reformasi ini diawali dengan lengsernya Soeharto dari kursi presiden RI pada tanggal 21 Mei 1998 oleh gerakan reformasi yang muncul dari kampus. Gerakan yang dipelopori mahasiswa tersebut patut diacungi jempol. Pasalnya, tanpa gebrakan dari gerakan pada 1998 lalu, ke-otoriteran Soeharto dalam memimpin bangsa tak akan pernah usai.
Adapun yang melatarbelakangi gerakan dahsyat mahasiswa ini adalah satu kalimat pendek yaitu tidak puas. Tidak puas terhadap kondisi dan situasi yang ada saat itu. Ketidakpuasan itu utamanya terletak pada tiga hal, yakni demokrasi yang mandeg, ekonomi yang limbung dan hukum yang tidak berdaya.
Dalam buku Reformasi Hukum; Rekontruksi Kedaulatan Rakyat dalam Membangunn Demokrasi, Sulardi menyatakan bahwa dalam gerakan mahasiswa ini tidak terlihat adanya pamrih pada diri mahasiswa untuk memperoleh sesuatu, baik secara kelompok maupun individu. Pamrih dari gerakan ini hanya satu yaitu kesejahteraan rakyat. Karena bila dicermati topik yang diangkat dari gerakan mahasiswa ini bermula dari beban rakyat yang begitu tidak tertahankan lagi dikarenakan melambungnya harga sembako, banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga masalah yang peka misalnya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Buku yang ditulis oleh Sulardi alumni Magister Hukum Universitas Gajah Mada ini sangat responsif. Dalam artian buku ini merupakan satu jawaban terhadap problematika hukum yang berkembang saat ini. Di mana reformasi hukum di Indonesia masih belum selesai. Jalan untuk menuju reformasi hukum secara komprehensif masih panjang.
Belum tercapainya reformasi hukum, berawal dari amandemen UUD 1945 yang tambal sulam dan tanpa arah, sehingga pergumulan politik sangat sengit antara pandangan bahwa UUD 1945 kebablasan dan hasil amandemen yang belum memadai, sehingga muncul wacana untuk amandemen UUD 1945 lagi, atau kembali ke UUD 1945 sebelum diamandemen.
Di Indonesia hukum masih belum dimaknai sebagaimana mestinya, hukum dipandang sebagai kepentingan kalangan tertentu yang bermodal kekuasaan dan uang, hukum belum dimaknai untuk kepentingan umat manusia. Hal ini merupakan salah satu indikator akan belum usainya reformasi hukum di Indonesia.
Buku ini lebih menegaskan lagi tentang pentingnya reformasi hukum di Indonesia. Pasalnya reformasi hukum saat ini merupakan kelanjutan gerakan reformasi mahasiswa 1998 lalu. Yang mana saat itu kekuasaan rezim Soeharto bertindak semena-mena terhadap rakyat. Salah satunya adalah penculikan para aktivis di Tanjung Priok.
Ada beberapa pembahasan penting dalam buku ini. Di antaranya pada bagian pertama dipaparkan pemaknaan kedaulatan rakyat. Secara historis upaya akan kedaulatan rakyat itu terus dilakukan. Sebagai contoh, Plato (429-347 S.M) yang beranggapan bahwa kedaulatan rakyat dapat terwujud dalam suatu pemerintahan yang dipimpin oleh orang yang bijaksana, sehingga ia sangat menganjurkan agar pemerintahan itu dilakukan oleh filosof yang diyakininya bisa bertindak bijaksana.
Sementara menurut John Locke (1632-1704) untuk tercapainya kedaulatan rakyat maka kekuasaan yang ada dalam negara harus dipisahkan ke dalam dua aspek kekuasaan. Hal ini senada dengan pemikiran dari Motesquieu yaitu merumuskan tentang Trias Politica di mana memisahkan kekuasaan ke dalam tiga aspek, aspek legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Sedangkan pemerintah Indonesia secara formal mengakui bahwa kekuasaan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Oleh karenanya menurut Usep Ranuwijaya, segala putusan lembaga ini tidak bisa dibatalkan oleh lembaga negara yang lain. Bahkan kini lebih diperkuat, dengan kalimat bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat dan dilakukan berdasarkan Undang-undanng Dasar (UUD).
Dan yang tak kalah pentingnya adalah pada bagian akhir buku ini dijelaskan gagasan bagaimana Indonesia ke depan supaya menjadi negara yang lebih baik. Yang meliputi perlunya melakukan rekontruksi atas negara Indonesia, memaknai pemimpin, demokrasi, hingga reposisi keberadaan yudisial.
Misalkan saja, dalam pemaknaan demokrasi. Dalam buku ini dijelaskan, bahwa sejak negara Indonesia berdiri secara formal dapat diketahui bahwa negara ini adalah negara domokrasi. Bisa dilihat dalam UUD 1945 pasal 2 ayat 3 bahwa, ”kekuasaan tertinggi tertinggi di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”. Juga berdirinya lembaga legislatif berupa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menambah kejelasan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Dalam hal ini gagasan utamanya adalah bagaimana mengembalikan suara sepenuhnya kepada rakyat dan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan partai politik tertentu.
Sehingga dengan demikian, buku ini merupakan satu jawaban terhadap situasi hukum yang ada saat ini. Hal ini sebagai sebuah tuntutan untuk menyempurnakan gerakan reformasi mahasiswa pada 1998 lalu terhadap rezim Soeharto. Untuk lebih jelasnya pembaca bisa menelaah lebih mendalam tentang bagaimana seharusnya reformasi hukum ke depan di Indonesia. Ini dimaksudkan agar pembaca bisa mendapatkan wawasan secara komprehensif terhadap gagasan-gagasan inovatif dalam menjadikan Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang.


