Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Maret 2010

Mendiknas Tegaskan Perlunya Pengembangan Karakter Pribadi

0 komentar
Sumber :http://www.mediaindonesia.com/read/2010/03/19/130415/88/14/Mendiknas-Tegaskan-Perlunya-Pengembangan-Karakter-Pribadi

BEKASI--MI: Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh memberikan kiat kepada siswa SMA/SMK se- Bekasi bagaimana caranya untuk mencapai sukses. "Berusahalah bagaimana mengubah dari angka 1/2 menjadi 2," ungkap Mendiknas dalam acara temu wicara siswa SMK/SMA se-Bekasi di SMA negeri 1 Bekasi, Jumat (19/3).

Mungkin nalurinya sebagai pendidik membuatnya tidak hanya berhenti di situ dalam memaparkan analoginya. Mendiknas menjelaskan kepada siswa, bahwa saat dulu ketika dirinya berlajar Matematika dikenalkan perhitungan bilangan berpangkat. "Angkat setengah (1/2) jika dipangkatkan dengan angka yang semakin besar, maka hasilnya makin kecil. Sebaliknya jika angka 2 dipangkatkan, semakin besar pangkat maka semakin besar juga hasilnya," ungkap Nuh.

Itu menandakan, lanjut Nuh, yang perlu ditingkatkan bukan pangkatnya, melainkan basis bilangannya. Menurutnya, hal itu sama dengan filosofi hidup dalam mencapai kesuksesan. "Jadi, anak-anakku yang perlu ditingkatkan bukan pangkatnya, tapi basis bilangan, yakni karakter pribadinya," lanjut Nuh yang mendampingi Wapres Boediono dalam kunjungan itu.

Disinilah pembangunan karakter, supaya sewaktu-waktu jika diberi pangkat, langsung melambung ke atas. "Kayak angka 10 dipangkat 2, hasilnya langsung bagus," kata Mantan Menteri Komunikasi dan Informasi KIB I itu.

Muhammad Nuh juga memberikan analogi ketika menjawab pertanyaan seorang siswa mengenai penataran P4 yang sudah lama tidak diajarkan di sekolah. Menurutnya, P4 subtansinya sudah diadopsi dalam mata pelajaran lain. "Kalau sekarang jamannya ATM, bukan berarti uang logam salah dan tidak berlaku," kata Nuh. Artinya, cara belajar juga harus disesuaikan dengan zaman. (ST/OL-03)

Senin, 22 Maret 2010

Pembelajaran dengan Facebook

0 komentar

Ilham Effendi

Memang luar biasa situs jejaring sosial yang dibuat Mark Zuckerberg ini. Facebook bisa menjadi 'virus' yang begitu ganas mewabah jutaan jiwa di seluruh dunia. Memang banyak sekali manfaat dan kelebihan yang dimiliki Facebook jika dibandingkan dengan situs jejaring sosial lain. Layanan yang ditawarkan Facebook terasa sangat lengkap. Facebook memudahkan kita tetap terhubung dengan teman atau kerabat walaupun kita terpisah di bagian belahan dunia lain. Selain itu Facebook juga sering digunakan untuk membangun komunitas hingga kepentingan bisnis.

Sekarang mari kita intip penggunaan Facebook oleh pelajar di Tanah Air. Sungguh ironi, fasilitas Facebook yang kerap digunakan justru fasilitas yang tidak begitu bermanfaat atau hanya sekedar just for fun. Mereka lebih suka memainkan game, kuis yang tidak jelas tujuan dan manfaatnya, atau sekedar chatting dengan topik yang tidak perlu. Kegiatan seperti ini tentu saja akan banyak membuang waktu dan memboroskan uang saja. Melihat kasus ini, lantas siapakah yang patut disalahkan? Sungguh keputusan yang sangat tidak tepat jika kita menyalahkan Facebook itu sendiri. Karena pada dasarnya teknologi itu bersifat netral. Ini semua tergantung dari cara user memanfaatkan layanan tersebut.

Baik, sekarang mari kita ajak para pelajar memanfaatkan facebook ini dengan cara yang lebih positif. Siapa yang mengira bahwa Facebook dapat digunakan untuk mendukung proses belajar. Memang kedengarannya sedikit rumit dalam penerapannya. Namun nyatanya tidak. Penerapannya justru sangat mudah dan bahkan lebih efektif dari cara belajar konvensional.

Contoh penerapannya seperti berikut: Setiap siswa dan guru tentu saja harus memiliki akun Facebook. Adakan pelatihan internet singkat jika perlu. Setelah itu guru bisa memulai membuat blog. Tidak perlu susah-susah mencari aplikasi di Facebook yang bisa membuat blog. Gunakan saja bantuan situs lain yang seperti blogger.com atau wordpress.com karena kedua situs tersebut lebih memudahkan kita dalam membuat blog. Setelah itu guru mempublikasikan blognya melalui Facebook. Guru bisa mencantumkan link blog tadi di halaman profil Facebooknya untuk mempermudah siswa mengakses blog tersebut. Dengan blog ini nantinya, guru dapat dengan mudah menuliskan materi yang diajarnya ke dalam blog. Blog ini bisa berisi tulisan pendukung materi yang telah diajarkan di kelas atau bisa juga disisipi link untuk mendownload materi yang bersangkutan. Kelebihan yang dimiliki blog ini adalah setiap siswa dapat dengan mudah mengakses blog guru dan memberikan komentar dalam postingan yang ada di blog. Jadi siswa bisa dengan mudah memberikan pendapat, ide, atau kritiknya tentang penulisan materi tersebut. Pembuatan blog ini tidak hanya terbatas pada guru. Ada baiknya setiap siswa juga memiliki blog. Hal ini akan memancing kreatifitas siswa dan menambah skill siswa dalam menulis.

Fasilitas Facebook lainnya yang bisa digunakan adalah pembuatan grup. Satu mata pelajaran harus memiliki satu grup dan setiap siswa harus menjadi anggota dari grup ini. Group ini memudahkan guru dalam memberikan pengumuman kepada setiap siswa tentang agenda pembelajaran di sekolah, seperti pemberitahuan akan adanya ulangan atau pemberitahuan batas akhir penyerahan tugas. Hal ini dapat dengan mudah dilakukan dengan fasilitas “message all member” yang dapat mengirim pesan ke seluruh anggota grup dengan sekali proses saja. Grup ini juga memudahkan siswa dalam mendiskusikan materi yang tercantum di kurikulum. Sebagai contoh adalah mata pelajaran fisika. Guru atau salah satu murid bisa memulai satu buah topik yang akan didiskusikan bersama. Misalnya dibuat topik “Prinsip Bernoulli”. Setiap siswa bisa menambahkan pengetahuan atau pendapatnya tentang Prinsip Bernoulli atau memberikan contoh dari Prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang lain mengkritiki pendapat temannya atau menambahkannya dengan pengetahuan yang lebih banyak lagi. Tugas guru hanya memantau dan memoderatori diskusi tersebut serta meluruskan jika ada konsep yang menyimpang. Ingat! Kegiatan ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Tidak hanya pada jam sekolah dan dilakukan di ruang kelas yang sering membosankan siswa.

Fasilitas Facebook berikutnya adalah Kuis. Kuis ini sama halnya seperti angket yang dibuat oleh seseorang dan orang lain bisa mengisinya. Pengisi maupun pembuat angket bisa mendapatkan hasil penilaiannya dengan mudah. Sering kali kuis di Facebook ini dibuat dengan tujuan hanya untuk kesenangan atau iseng. Namun kali ini mari kita optimalkan untuk pembelajaran siswa. Kuis ini bisa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa. Ada baiknya guru melakukan ini sebagai latihan siswa sebelum menghadapi ulangan. Misalnya guru membuat satu buah kuis kimia dengan tema Larutan Penyangga. Setelah itu guru mengundang setiap muridnya untuk mengerjakan kuis tersebut. Dengan begitu hasilnya dapat dipantau oleh guru dengan mudah karena notifikasinya akan selalu di update otomatis oleh Facebook. Latihan soal seperti ini tentu saja lebih efektif dan memberikan kesan menyenangkan kepada siswa.

Contoh-contoh di atas tadi hanya beberapa saja dari keseluruhan fasilitas. Kita bisa saja memanfaatkan fasilitas Facebook lainnya untuk mempermudah proses pembelajaran. Semua bergantung pada tingkat pengetahuan dan penguasaan kita dalam menggunakan layanan-layanan tersebut.

Mungkin permasalahannya adalah mengenai akses internetnya. Apakah semua siswa harus memiliki koneksi internet di rumahnya? Jika tidak, bukankah tarif-tarif yang ada di warnet masih terbilang mahal untuk saku pelajar? Tenang saja, Facebook juga bisa diakses melalui perangkat seluler (handphone) yang support dengan GPRS dengan tarif yang cukup murah. Melihat zaman yang semakin maju ini, rasanya handphone dengan dukungan GPRS sudah bukan barang mewah lagi. Semua siswa bisa memiliki perangkat ini tanpa merogoh kocek dalam-dalam.

Sabtu, 20 Maret 2010

MENINJAU KEMBALI PELAKSANAAN UN

0 komentar

Muhammad Rajab

Setiap tahun pendidikan kita menyelenggarakan evaluasi secara nasional atau yang kita kenal dengan Ujian Nasional (UN). Pada UN tersebut nasib kelulusan siswa-siswi kelas akhir ditentukan. Mereka dituntut untuk mencapai target nilai yang telah ditentukan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Beberapa hari lagi kita akan menyelenggarakan UN secara menyeluruh. Segala persiapkan telah dilakukan baik oleh pihak atas (pemerintah) maupun pihak bawah (sekolah).
Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkan pendidikan kita menyentuh aspek moralitas?. Jika kita lihat sekilas tentang pelaksanaan kegiatan evaluasi atau UN lebih mengedepankan aspek kognitif saja. Padahal menurut teori Bloom, ranah pendidikan ada tiga, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Maka sudah selayaknya pendidikan diarahkan untuk mencetak pemimpin yang mampu merubah diri sendiri dan masyarakatnya.
Mengapa yang menjadi standar utama dalam pelaksanaan UN hanya nilai angka semata?. Padahal, jika dilihat sejenak penilaian semacam ini hanya dapat menyentuh aspek intelektualitas (kognitif) semata. Hal ini menjadi sebuah ironi bagi pendidikan kita. Karena seakan-akan terjadi penyempitan makna pendidikan. Pendidikan yang seharusnya mencakup nilai-nilai universal baik bagi pribadi maupun bagi masyarakat menjadi terbatasi. Pendidikan hanya dilihat dari angka saja.
Paulo Freire mengatakan, bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Artinya, bagaimana manusia dikembalikan kepada fitrah (suci). Berdasarkan teori Islam, bahwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan membawa fitrah. Apakah fitrah tersebut akan berubah tergantung kepada kedua orang tua dan lingkunganna. Artinya proses pendidikan haruslah dapat mengembalikan keadaan manusia ke arah yang lebih baik secara moralitas dan aspek yang lain.
Sayangnya tujuan pendidikan semacam ini kurang dipahami oleh para guru dan siswa-siswi kita. Terbukti misalnya pada pelaksanaan UN. Para guru berusaha semaksimal mungkin untuk meluluskan siswanya, tak pandang apakah cara yang ditempuhnya salah atau benar yang terpenting dapat meluluskan siswanya. Maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kecurangan-kecurangan di sekolah ketika pelaksanaan UN.
Kesalahpahaman akan tujuan pendidikan tersebut telah dapat membawa dampak yang signifikan terhadap peserta didik. Misalnya, ketika pengumuman kelulusan seorang siswa tidak lulus, mereka pingsan dan menjerit-jerit bahkan sampai masuk rumah sakit jiwa (RSJ). Belum lagi orang tua yang tidak mau menerima anaknya yang tidak lulus.
Mereka hanya memahami bahwa nilai pendidikan adalah nilai angka. Padahal sudah dijelaskan dalam UU SIkdisnas Tahun 2003 No 20 tentang tujuan pendidikan. Tujuannya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan .
Coba perhatiakan tujuan pendidikan di atas, manusia yang beriman dan berbudi pekerti luhur ditempatkan pada urutan yang lebih awal dari memiliki pengetahuan dan ketermapilan. Maka tidak salah apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara tentang trilogi pendidikan, bahwa untuk mewujudkan pendidikan yang bisa menghasilkan anak yang bermoral bisa dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Prof. Dr. Djohar, M.S. mengatakan bahwa pendidikan penting untuk ditempatkan sebagai bentuk investasi jangka panjang (long term investation) dan garda terdepan pembangunan bangsa. Pendidikan memberikan peluang untuk mentransformasikan nilai-nilai pendidikan agar penyelenggaraan pendidikan mampu menjadi problem solver terhadap problamatika yang dihadapi masyarakat. Atau secara sederhana disampaikan oleh Soenarja S.J., bahwa pendidikan itu mengarah pada pendewasaan pribadi sebagai manusia dan warga Negara.
UN yang selama ini kita jalankan terbukti telah banyak menyebabkan permasalahan-permasalahan baru. Pendidikan yang seharusnya menjadi solusi terhadap problematika bangsa tidak tercapai. Malah yang terjadi sebaliknya, yakni pendidikan menambah masalah baru bagi kita. Sehingga beban bangsa menjadi bertambah berat.
Dengan demikian, sudah selayaknya para guru dan praktisi pendidikan lainnya mengkaji ulang tentang makna pendidikan. Jangan sampai pendidikan menjadi satu momok bagi para guru dan siswa. Perlu dipahami bahwa pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan nilai angka terbaik, namun lebih dari itu pendidikan ditujukan untuk mendapatkan nilai moralitas yang tinggi dan menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat.
Tak cukup berhenti di situ, para guru dan orang tua juga perlu memahamkan kepada seluruh anak didiknya tentang hakikat pendidikan itu sendiri. Kesalahpahaman akan makna pendidikan akan berakibat fatal bagi peserta didik.
Hal ini juga sebagai bentuk antisipasi saat pelaksanaan UN. Karena tidak jarang saat UN terjadi kecurangan-kecurangan yang dapat merusak nilai-nilai pendidikan. Baik kecurangan yang dilakukan oleh guru, pengawas dan siswa sendiri. Sabab, tindakan-tindakan kecurangan tersebut telah merusak dan mengotori nilai-nilai mulia pendidikan.

Sabtu, 05 Desember 2009

Laskar Pelangi telah Berlalu

4 komentar
Oleh: Kastur Eko Prasetyo*

Beberapa bulan yang lalu, dunia perfilman, kepenulisan, media massa, dan pendidikan sempat disulut oleh bergejolak dengan semangat yang dialirkan oleh novel laskar pelangi, dan puncaknya dengan diluncurkannya film yang berkisah tentang semangat sepuluh orang siswa SD Muhammadiyah. Banyak orang menyatakan bahwa film tersebut memberikan motivasi besar dan luhur, memotivasi kita agar selalu bercita-cita setinggi mungkin, karena dengan cita-cita yang tinggi seseorang akan melakukkan tindakan-tindakan yang besar pula untuk mencapai impiannya itu.

Semua orang berbondong-bondong berlomba membaca novelnya dan rela mengantre berjam-jam untuk melihat aksi sepuluh anak anggota laskar pelangi dilayar bioskop, bahkan banyak mahasiswa yang mengorbankan jam kuliahnya demi untuk menontonnya . Setiap orang yang telah menyaksikan film yang digarap di pulau belitung itu, dibuat terpsona, terharu, dan bersemangat untuk bermimpi.
Namun sekarang, seiring dengan mulai redupnya gejolak riuh pesona laskar pelangi, kita menanti harapan besar dari suntikan energi motivasi untuk menggapai masa depan yang disampaikan oleh film tersebut, terutama dalam bidang pendidikan. Tidak hanya cukup bermimpi untuk mendapatkan cita-cita, namun benar-benar bekerja keras dalam berusaha untuk mendapatkann pendidikan tertunggi yang merupakan dasar tumpuan bangsa.

Pendidikan merupakan pondasi terciptanya bangsa yang maju. Pendidikan berusaha untuk mencetak kader-kader yang berkompeten agar dapat menghadapi kehidupan mendatang dengan lebih baik dan mandiri. Terlebih dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang dengan pesatnya, tentu harus dipersiapkan untuk menghadapi tantangan-tantangan yang pasti akan dihadapi di masa depan dan mungkin belum pernah ada dijaman sekarang
Orang mengatakan bahwa teknologi yang canggih ibarat belati, jika penggunanya adalah ibu rumah tangga atau panjagal daging, maka akan bermanfaat dalam artian positif. Namun jika pisau ada ditangan seorang perampok, maka akan membahayakan bagi orang lain. Begitu juga dengan “ kepandaian”, jika “kepandaian” berada dalam otak orang yang tidak mempunyai akhlak yang mulia, maka ia akan menggunakan kepandaiannya untuk hal-hal yang merugikan orang lain. Namun jika seorang yang pandai juga dibarengi dengan akhlak yang mulia maka “kepandaian”-nya akan berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Kita tidak boleh melupakan bahwa para koruptor adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi.

Dan kita mengharapkan, pesan-pesan yang disampaikan dalam laskar pelangi, pendidikan yang tidak hanya mengutamakan faktor kognitif atau kecerdasan intelektual saja, namun juga pendidikan budi pekerti, dapat membekas dihati para peserta didik, guru, dan semua pihak yang bersentuhan dengan pendidikan. Sehingga generasi penerus bangsa dapat muncul dengan semangat pembangunan dan solidaritas tinggi demi memajukan bangsa.
Kita mengetahui bahwa motivasi sekolah masyarakat Indonesia yang rendah masih menjadi momok yang menghantui. Hal itu akan menjadi masalah yang serius jika tidak segera dicari solusinya. Namun demikian, kemiskinan tetap menjadi faktor utama yang menjadi penghambat laju keberhasilan pendidikan di Indonesia, karena faktor ekonomi selalu merembet keberbagai bidang lain. Dan seperti diungkapkan diatas, bahwa perkembangan teknologi telah menyeret para pemuda kepada dunia yang tidak inovativ, dan berimplikasi dikesampingkannya pendidikan formal yang sebenarnya lebih dibutuhkan.

Pemerintah telah berupaya unuk meningkatkan mutu pendidikan. Alokasi 20 % APBN merupakan langkah strategis yang diambil, dan sebenarnya memang iulah yang harus dilakukan, peningkatan nilai standar ujian nasional, sertifikasi guru, bantuan dana BOS ( bantuan operasional sekolah), dan beasiswa-beasiwa yang diberikan pemerintah seharusnya mampu memacu generasi bangsa untuk bersekolah.
Mungkin memang pandangan bahwa bersekolah terlalu sulit, sudah menjadi mindset / pola pikir masyarakat kita, sehingga subtansi dari menuntut ilmu tidak dapat dirasakan.Subtansi dari pendidikan adalah untuk memunculkan generasi bangsa yang terdidik, selain untuk membangun kembali negara ini, juga untuk menciptakan sebuah masyarakat yang berperadaban.

Sekarang, yang menjadi PR bagi kita semua adalah bagaimana menjadikan anak Indonesia bersemangat untuk mengisi kepala-kepala mereka dengam ilmu dan mengubah pola pandang bahwa pendidikan itu terlalu sulit untuk dijalani, minimal generasi muda mau berangkat ke sekolah dengan rasa senang tanpa ada intruksi. Sehingga semangat "laskar pelangi" dapat benar-benar terwujud, tidak sekedar lewat begitu saja, harapannya akan lahir "lintang-lintang" yang baru yang akan memajukan bangsa Indonesia.

PENTINGNYA BAHASA ARAB UNTUK ANAK USIA DINI

0 komentar

Telah dimuat di Koran Pendidikan
Oleh: Muhammad Rajab*

Bahasa merupakan satu keterampilan. Dikatakan demikian karena seseorang tidak akan bisa menguasai bahasa tertentu tanpa adanya latihan-latihan. Kita bisa menguasai bahasa jawa misalnya, itu Karena sejak kecil kita mendengar bahasa tersebut di sekiling kita dan langsung kita praktekkan dalam berkomunikasi. Demikian pula dengan bahasa Arab. Kita tidak dapat menguasai bahasa Arab tanpa ada tamrinat (latihan) dalam keseharian baik secara lisan maupun tulisan.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang unik. Ia berbeda dengan bahasa Inggris serta bahasa-bahasa asing yang lain. Tata bahasa yang digunakan relatif rumit. Ada ilmu Nahwu, Shorof, dan Balghah. Masing-masing disiplin tersebut mempunyai perbedaan signifikan, walaupun sama-sama ilmu bahasa Arab. Ilmu Nahwu lebih menekankan pada mabni ¬dan mu’rob (menetukan harkat terkhir). Ilmu Shorof lebih menekankan pada shiyagul kalimat (perubahan bentuk kata). Sedangkan ilmu Balaghah cenderung mempelajari sastra Arab.
Sementara itu, ada juga hal lain yang membedakan bahasa Arab dengan bahasa yang lain. Satu kata dalam bahasa Arab bisa dipecah menjadi beberapa kata yang berbeda arti dan makna serta kedudukannya. Ini sangat berbeda dengan bahasa Inggris. Kalau bahasa Inggris paling banter kata yang dapat dipecah dari bentuk dasar kata, kurang lebih lima bentuk kata.
Makanya, terkadang orang menjadi malas dalam mempelajari bahasa Arab. Karena selain membingungkan juga banyaknya kata-kata yang berbeda makna, padahal itu hanya berasal dari satu kata. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang berasal dari barat, terkadang juga menjadi sebab bagi sebagian kalangan untuk tidak mempelajari bahasa Arab. Disebabkan karena waktu yang tersedia terbatas, sehingga tidak ada ruang untuk menyempatkan diri belajar bahasa Arab.
Beberapa penyebab kemalasan dalam mempelajari bahasa Arab di atas sebenarnya bisa menjadi penyemangat bahkan sebenarnya mempermudah kita dalam mempelajarinya. Kita harus sadar akan keunikan tersebut. Misalnya, satu kata bisa menjadi beberapa kata bahkan sampai seratus kata yang berlainan makna dan kedudukan. Ini sebenarnya mempermudah bagi kita dalam menghafal beberapa arti kata, karena kita hanya cukup memecahnya dari satu kata. Contoh, kata kataba (menulis) bisa dipecah menjadi kitabatan (tulisan), kitaban (buku), maktaban (meja), maktabatan (perpustakaan) dan lain sebagainya.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat bermanfaat bagi kita, khususnya bagi yang muslim. Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah masyarakat muslim. Walaupun demikian, bukannya penulis menjustifikasi bahwa selain muslim tidak boleh belajar bahasa Arab. Namun, karena masyarakat jawa timur mayoritas muslim, maka tidak ada salahnya penulis menyebutkan beberapa kelebihan bahasa Arab perspektif Islam.
Pertama, bahasa Arab adalah bahasa kitab suci Al-Quran. Kita tidak akan bisa memahami Al-Quran kecuali dengan memahami bahasa Arab dengan benar, baik dari segi nahwu, shorof maupun balaghahnya. Bolehlah, kita beralasan sekarang sudah banyak terjemahan, jadi tidak perlu lagi belajar bahasa Arab dan hanya cukup membaca terjemahannya saja. Pada dasarnya orang yang menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia juga sudah mempelajari bahasa Arab dengan benar. Tapi alangkah baiknya kalau kita selain membaca terjemahan, juga harus bisa menguasai bahasa Arab. Karena, boleh jadi terjemahan yang ada juga ada salahnya, karena sifat dasar manusia tidak pernah terluput dari salah dan lupa.
Ketika terjadi sebuah kesalahan dalam terjemahan, kita bisa memperbaikinya langsug, dan tidak ikut kepada terjemahan yang salah tersebut. Selain, itu jika kita memahami bahasa Arab dengan baik, kita tidak perlu lagi membuka terjemhan dan cukup membacanya dan cukup mengacu kepada tafsir-tafsir yang ada untuk lebih meningkatkan pemahaman terhadap makna dan kandungan Al-Quran tersebut.
Kedua, sebagai ilmu alat. Artinya bahwa bahasa Arab meruakan bahasa yang dapat digunakan sebagai alat untuk menggali ilmu pengetahuan, khsusnya ilmu-ilmu agama. Karena Islam pada mulanya muncul di negeri Arab. Jadi ilmu-ilmu Islam mayoritas berbahasa Arab.
Bahasa Arab bisa digunakan sebagai alat untuk menggali ilmu fikih dan hadits serta ilmu-ilmu yang lain. Karena, jika kita membaca buku-buku yang berasal dari Arab langsung, itu masih murni dan tidak ada campur tangan dari penerjemah. Dan disebabkan ketidakmengertiannya terhadap bahasa Arab, tidak jarang juga ditemukan orang yang mengatakan suatu ungkapan bahasa Arab sebagai hadits. Padahal itu hanya selentingan atau ucapan bijak yang tidak berasal dari Nabi.
Untuk meningkatkan minat pelajar terhadap bahasa Arab, maka hendaknya bahasa Arab diperkenalkan kepada anak sejak dini. Ini juga seperti bahasa Inggris, kenapa minat pelajar lebih banyak ke bahasa Inggris dari pada bahasa Arab, karena memang bahasa Inggris sudah diperkenalkan kepada anak sejak dini. Bahkan sekarang di Sekolah Dasar sudah diajarkan bahasa Inggris. Kenapa bahasa Arab tidak?. Nah, inilah permasalahan mendasar lemahnya minat mahasiswa dalam belajar bahasa Arab.
Khususnya bagi sekolah-sekolah yang berbasiskan Islam, Ini seharusnya lebih diperhatikan dan lebih diperhitungkan dari bahasa yang lain. Karena bagaimanapun tidak, pedoman agama Islam adalah Al-Quran dan Hadits. Sedangkan bahasa yang digunakan Al-Quran dan Hadits adalah Al-Quran.
Akan tetapi satu hal yang perlu diingat, khususnya bagi guru bahasa Arab, bahawa metode yang dipakai dalam menyampaikan pelajaran bahasa Arab kepada anak hendaknya dibedakan dengan metode yang dipakai untuk orang dewasa. Jika metode yang digunakan kepada orang dewasa dipakai juga kepada anak, maka pembelajaran tersebut tidak akan maksimal, dan bahkan akan gagal.
Adapun metode yang dapat digunakan adalah bisa dengan membawa alat peraga. Alat peraga ini dimaksudkan untuk lebih menguatkan anak dalam mengingat kosa-kata yang telah diberikan. Jadi, ketika memberikan kosa-kata, anak dapat melihat langsung maksud ataupun arti dari kosa kata tersebut, walaupun guru tidak menulisnya di papan tulis. Anak dapat melihat langsung secara empiris. Jika ditinjau dari segi kognitif, metode seperti ini lebih efektif dari pada menulis arti kosa kata di papan tulis.
Misalnya, seorang guru mau memberikan kosa kata tentang binatang. Maka guru harus menunjukkan gambar atau boneka yang berbentuk binatang. Dengan itu akan lebih cepat ditangkap dan dipahami oleh anak. Karena selain mendengar, visual anak bisa melihat langsung secara emperis.
Metode seperti ini jika dikaitkan dengan konsep pendidikan modern, dapat dikatakan sebagai salah satu aplikasi konsep CTL (Contextual Teaching and Learning) yang masih belum dipraktekkan secara menyeluruh oleh para guru, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Jumat, 04 Desember 2009

MEMBEBASKAN SARJANA PENGANGGURAN

0 komentar
Oleh: Muhammad Rajab*

Kondisi perekonomian Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan. Apalagi setelah naiknya beberapa harga bahan pokok dan BBM. Angka kemiskinan yang ada sangat tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten bahwa jumlah kemiskinan mengalami kenaikan. Tahun 2006 tercatat 786.700 keluarga miskin, dan pada awal tahun 2008 meningkat menjadi 886.000 keluarga. Jika satu keluarga terdiri dari suami, istri, dan satu anak, maka jumlah orang miskin di Banten mencapai 2.685.000 orang, dari 9,5 juta penduduk Banten.
Bahkan, menurut Tim Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Tim P2E-LIPI) memperkirakan warga miskin tahun 2008 ini akan bertambah menjadi 41,7 juta orang (21,92 persen). Lonjakan ini akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM sebanyak 28,7 persen.
Hal tersebut merupakan sedikit gambaran bagi kita tentang kondisi ekonomi masyarakat Indonesia. Belum lagi jika kita menenguk jumlah pengangguran yang ada di negeri ini. Pada tahun 2005, jumlah pengangguran mencapai 11,9 juta orang. Kemudian, sedikit turun menjadi sekitar 10,9 juta orang pada 2006.
Menurut Erman bahwa penyebab naiknya jumlah pengangguran ini, karena ada angkatan kerja baru dari lulusan pendidikan sekitar 2,3 juta orang. Selebihnya adalah pengangguran yang disebabkan oleh beruntunnya bencana alam beberapa waktu belakangan.
Adapun berdasarkan data statistik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, jumlah pengangguran lulusan Diploma atau Akademisi tahun 2005, sekitar 322.836 jiwa (pemuda 138.749 dan pemudi 184.087). Sedangkan, sarjana lulusan universitas sekitar 385.418 jiwa (pemuda 184.497 dan pemudi 200.921), bila ditotalkan sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari kalangan sarjana muda.
Dalam artikel yang berjudul Sarjana Pengangguran Buya Abdul Aziz (2006) menyebutkan bahwa menurut anggota Komisi IX DPR asal Fraksi PAN, Djunaedi bahwa tingginya angka pengangguran sarjana muda disebabkan oleh lemahnya kemampuan pemerintah mengundang investor untuk menanamkan investasi, terutama di sektor-sektor formal. Selain itu, juga disebabkan oleh rendahnya kreativitas para lulusan universitas-universitas Indonesia jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya.
Adapun menurut hemat penulis tingginya angka pengangguran tersebut disebebkan oleh beberapa faktor. Pertama, kurangnya profesionalisme kerja yang menyebabkan seseorang bingung dan tidak mendapatkan pekerjaan yang cocok terhadap dirinya. Kedua, minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Ketiga, tidak adanya kreativitas sehingga seseorang harus mengandalkan pekerjaannya pada orang lain. Keempat, lemahnya ekonomi seseorang sehingga dia tidak berani untuk membuka usaha-usaha baru.
Beberapa penyebab tersebut harus segera mendapat perhatian dari pihak individu masyarakat, khususnya para sarjana dan pemerintah. Karena jika pengangguran ini terus berkembang, maka akan memberikan implikasi buruk terhadap perkembangan ekonomi bangsa. Sehingga angka kemiskinan akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah pengangguran yang ada.
Menurut Mahendra bahwa jalan keluar dari berbagai permasalahan tersebut adalah Pemerintah harus menjamin adanya lapangan pekerjaan bagi lulusan pendidikan tinggi. Jaminan tersebut hanya mungkin dengan adanya industrialisasi nasional. Industrialisasi yang akan memajukan tenaga produktif masyarakat, termasuk membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan standar hidup masyarakat.
Untuk mengurangi sarjana pengangguran tersebut, maka hendaknya ada kesadaran pada setiap mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi akan pentingnya berkreativitas. Sebab jika mereka malas dan tidak menyadari akan hal ini maka akan memberikan implikasi buruk bagi dirnya di hari mendatang.
Selain itu, seorang mahasiswa juga harus punya minimal satu keahlian dalam tata usaha. Atau paling tidak menjadi profesional di bidangnya masing-masing. Jika dia seorang sarjana pendidikan, maka hendaknya untuk konsen dalam dunia pendidikan walaupun juga harus dibantu dengan pekerjaan sampingan. Dan jika dia adalah seorang sarjana ekonomi, maka harus konsen dalam bidangnya tersebut.
Walaupun demikian, bukan berarti pengelompokan demikian merupakan diskriminasi kerja. Akan tetapi bagaimana seseorang mempunyai satu profesionalisme tertentu sesuai dengan bidangnya masing-masing dengan tidak memberikan batasan untuk merangkul bidang-bidang yang lain.
Terlepas dari kreativitas mahasiswa, juga harus ada permodalan dari pemerintah. Pemerintah hendaknya memberikan peluang kepada alumus perguruan tinggi untuk membuka usaha dengan memberikan pinjaman berupa modal. Dengan modal tersebut diharapkan dapat memberikan mortivasi terhadap para sarjana untuk meningkatkan kreativiasnya yang telah didapat di perguruan tinggi dengan membuka usaha-usaha baru.
Karena selama ini, banyak mahasiswa yang telah lulus dari perguruan tinggi, namun mereka masih bingung untuk mencari lapangan pekerjaan atau membuka lapangan usaha mandiri. Salah satu penyebabnya adalah minimnya modal yang mereka miliki. Sehingga dengan demikian, maka sangat perlu bantuan pemerintah dalam hal permodalan terhadap para lulusan perguan tinggi dalam membuka usaha.

PENDIDIKAN MORAL DAN KEMAJUAN BANGSA

0 komentar
Oleh: Muhammad Rajab*

Baik dan buruknya suatu bangsa bisa dilihat dari kondisi pemudanya. Jika pemudanya baik, maka baiklah kondisi bangsa tersebut. Sebaliknya, jika pemudanya rusak, maka rusaklah bangsa tersebut. Karena di tangan pemudalah kunci perbaikan suatu bangsa. Dialah yang akan meneruskan perjuangan generasi terdahulu. Di atas pundaknya ada tanggung jawab yang berat.
Untuk mempersiapkan generasi yang benar-benar mampu mengemban amanah bangsa, maka Pendidikanlah merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk menggembleng para generasi penerus supaya siap menjadi pemimpin di masa yang akan datang dan mampu memghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi. Baik itu melalui lembaga pendidikan formal ataupun non formal.
Agar dengan pendidikan, anak dan pemuda bangsa bisa menjadi orang-orang yang siap menjadi pemimpin dan sanggup menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi baik lahir maupun batin. Maka hendaknya pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas keilmuan, skill dan moral anak. Tetapi yang harus menjadi prioritas utama adalah pembentukan moral. Dalam artian bahwa beberapa aspek pendidikan yang lain tidak boleh ditnggal, sebab aspek satu dengan lainnya saling berhubungan. Karena bagaimanapun juga pendidikan moral tetap membutuhkan keilmuan dan skill yang baik.
Orang yang pintar dari segi intelektual dan skillnya sering kita jumpai. Tetapi, sedikit sekali kita menemukan di antara mereka yang memiliki moral yang baik. Tidak jarang juga kita dengar dari berbagai media tentang pejabat dan pemimpin yang tersangka kasus korupsi. Itu merupakan salah satu akibat dari lemahnya pendidikan moral yang diberikan kepada mereka. Bukankah mereka orang-orang yang pintar dan cerdas?, bukankah mereka orang-orang yang berpendidikan jika ditinjau dari segi akademiknya?. Yang menjadi permasalahan di sini adalah nilai-nilai moralitas yang ada pada dirinya sangat minim, sehingga ia berani menghianati rakyat dan anggotanya.
Belum lagi para remaja dan pemudanya. Kasus-kasus kriminal yang dilakukan oleh remaja sering kita dengar, termasuk juga penggunaan obat-obat terlarang. Yang paling mengenaskan lagi adalah anak kecil sudah mulai berani mencoba-coba untuk melakukan tindak amoral ini. Kita lihat Jumlah pengguna narkoba di kalangan pelajar, baik pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Menengah Atas sudah semakin mengkhawatirkan. Menurut data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), tercatat sekitar 83 ribu pelajar mengkonsumsi narkoba.
Adapun angka terbaru dari Badan Narkotikan Nasional (BNN) pada penyalahgunaan narkoba di tingkat SD menunjukan angka yang mencengangkan, yakni mencapai 3.853 kasus. Jumlah tersebut hanya terhitung sampai bulan Juni 2007. Dari bulan Juli 2007 sampai Februari 2008 belum dihitung.
Menurut data yang lain bahwa di DKI Jakarta rasio narapidana kasus narkoba mencapai 60 persen atau sekitar 4.068 dari total 6.742 narapidana. Ini belum termasuk narapidana yang dipenjara karena tindak kriminal yang dilatarbelakangi kecanduan narkoba. Kasus-kasus tersebut yang terdata sedemian besarnya, apalagi yang masih belum diketahui.
Sedangkan Menurut Mangku Pastika, angka yang paling banyak terjadi penyalahgunaan narkoba adalah di tingkat SLTA. Sampai pada bulan Juni 2007 saja penyalahgunaan pada pelajar berseragam abu-abu putih ini sudah mencapai angka 22.225 kasus. Sementara di tingkat pelajar SLTP angka penyalahgunaan narkoba mencapai 6.853 kasus.
Semua kasus yang terjadi tersebut merupakan akibat dari kurangnya pendidikan moral yang diberikan kepada anak. Sehingga tanpa pertimbangan yang lebih lanjut, mereka berani nekad berbuat tindak amoral dan asosila tersebut.
Dan Kasus-kasus tersebut menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia ke depan. Bisa saja ke depan bangsa ini bukannya maju moralnya, akan tetapi malah ambruk dan tambah rusak. Itu semua bergantung pada kita sebagai generasi penerus bangsa. Selain itu, para praktisi pendidikan mempunyai tanggung jawab moral untuk meningkatkan kualitas moral para peserta didiknya.
Pendidikan tidak hanya dilaksanakan melalui lembaga-lembaga formal saja, seperti sekolah pada umumnya, akan tetapi proses pendidikan bisa dilaksanakan dengan menggunakan sarana yang lain. Karena ruang lingkup pendidikan tidak hanya di sekolah. Di dalam ilmu pendidikan ada tiga ruang lingkup pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan (masyarakat), yang biasa dikenal dengan istilah “Tri pusat pendidikan”. Dengan demikin proses pendidikan bisa dilaksanakan dengan melalui tiga ruang lingkup tersebut dan tidak terpusat pada sekolah saja. Dan antara ketiga ruang lingkup tersebut harus ada sinergi yang kuat dan baik.
Keluarga sebagai ruang lingkup pertama pendidikan anak sebelum ia menginjak pendidikan sekolah, mempunyai tanggung jawab besar terhadap pendidikan moral anak. Orang tua sebagai pelaku pendidikan di lingkup ini harus bisa mengajarkan nilai-nilai moralitas yang baik terhadap anaknya. Selain dari itu, orang tua juga harus mampu memberikan teladan yang baik terhadap mereka. Karena kecenderungan anak untuk meniru apa yang ia lihat dari sekitarnya itu lebi besar debandingkan dengan melakukan nasehat orang tua. Bahkan ia menganggap apa yang pertama ia lihat sebagai sesuatu yang ideal bagi dirinya. Dalam lingkup ini peran orang tua adalah sangat besardalam pembentukan karakter anak.
Adapun sekolah sebagai ruang lingkup pendidikan kedua yang dilalui oleh anak, juga memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan keilmuan dan moral anak. Oleh karena itu, selain mengajarkan ilmu-ilmu teori dan skill, seorang guru di sekolah hendaknya bisa mengajarkan moralitas yang baik terhadap anak didiknya. Pendidikan moral yang dilakukan oleh seorang guru bisa dengan cara mengajarkan secara langsung tentang moral-moral yang baik, ataupun dengan memberikan contoh yang baik terhadap anak didiknya. Yaitu dengan menampilkan perilaku yang mengandung nilai-nilai moralitas yang baik, dan hendaknya guru menjauhkan dari perbuatan yang kontradiktif. Artinya, ucapan guru harus sesuai dengan tindakan yang ia tampilkan dalam kehidupannya, terutam dalam lingkup sekolah. Karena ucapan dan tindakan seorang guru akan menjadi sorotan utama bagi anak didiknya di lingkungan sekolah.
Antara keluarga di rumah dan guru di sekolah harus terjalin sinergi yang baik. Agar bisa terbentuk sinergi yang baik, maka hendaknya antara keduanya bisa ,menjalin komunikasi yang sehat dan baik. Dengan komunikasi yang baik antara keduanya, orang tua di rumah bisa mengetahui kondisi anaknya di sekolah. Begitu juga sebaliknya, seorang guru bisa mengetahui keadaan anak didiknya di rumah. Dengan ini, maka kontrol pendidikan bisa berjalan dengan lancar. Ketika terjadi suatu masalah, maka dengan mudah kedua pihak bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Kedua pihak tersebut juga dituntut untuk mampu mngontrol pergaulan anak dengan teman-temannya di lingkungan masyarakat. Sebagi ruang lingkup ketiga bagi pendidikan lingkungan juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembngan anak. Maka dari itu, kontrol orang tua di rumah terhadap pergaulan anak dengan temannya sangat penting. Ini juga tidak lepas dari peran guru di sekolah, hendaknya guru juga bisa mengontrol pergaulan anak didiknya, terutama di lingkungan sekolah.
Dengan adanya sinergi yang baik antarketiga ruang lingkup tersebut dalam pembentukan moral anak, maka hasil dari pendidikan tersebut akan lebih nampak jelas. Sebab, moral anak di sekolah, di rumah dan di masyarakat dapat dikontrol dengan baik.
Sehingga dengan demikian, dapat terbentuk satu generasi penerus bangsa yang benar-benar mempunyai moral yang baik, serta kualitas intelektual dan skill yang baik pula. Yang pada akhirnya akan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang maju dan berkembang di segala biodang serta terlepas dari jeratan krisis multidimensi.

Followers

 

Bersama Membangun Bangsa. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com