Sabtu, 20 Maret 2010

MENINJAU KEMBALI PELAKSANAAN UN

0 komentar

Muhammad Rajab

Setiap tahun pendidikan kita menyelenggarakan evaluasi secara nasional atau yang kita kenal dengan Ujian Nasional (UN). Pada UN tersebut nasib kelulusan siswa-siswi kelas akhir ditentukan. Mereka dituntut untuk mencapai target nilai yang telah ditentukan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Beberapa hari lagi kita akan menyelenggarakan UN secara menyeluruh. Segala persiapkan telah dilakukan baik oleh pihak atas (pemerintah) maupun pihak bawah (sekolah).
Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkan pendidikan kita menyentuh aspek moralitas?. Jika kita lihat sekilas tentang pelaksanaan kegiatan evaluasi atau UN lebih mengedepankan aspek kognitif saja. Padahal menurut teori Bloom, ranah pendidikan ada tiga, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Maka sudah selayaknya pendidikan diarahkan untuk mencetak pemimpin yang mampu merubah diri sendiri dan masyarakatnya.
Mengapa yang menjadi standar utama dalam pelaksanaan UN hanya nilai angka semata?. Padahal, jika dilihat sejenak penilaian semacam ini hanya dapat menyentuh aspek intelektualitas (kognitif) semata. Hal ini menjadi sebuah ironi bagi pendidikan kita. Karena seakan-akan terjadi penyempitan makna pendidikan. Pendidikan yang seharusnya mencakup nilai-nilai universal baik bagi pribadi maupun bagi masyarakat menjadi terbatasi. Pendidikan hanya dilihat dari angka saja.
Paulo Freire mengatakan, bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Artinya, bagaimana manusia dikembalikan kepada fitrah (suci). Berdasarkan teori Islam, bahwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan membawa fitrah. Apakah fitrah tersebut akan berubah tergantung kepada kedua orang tua dan lingkunganna. Artinya proses pendidikan haruslah dapat mengembalikan keadaan manusia ke arah yang lebih baik secara moralitas dan aspek yang lain.
Sayangnya tujuan pendidikan semacam ini kurang dipahami oleh para guru dan siswa-siswi kita. Terbukti misalnya pada pelaksanaan UN. Para guru berusaha semaksimal mungkin untuk meluluskan siswanya, tak pandang apakah cara yang ditempuhnya salah atau benar yang terpenting dapat meluluskan siswanya. Maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kecurangan-kecurangan di sekolah ketika pelaksanaan UN.
Kesalahpahaman akan tujuan pendidikan tersebut telah dapat membawa dampak yang signifikan terhadap peserta didik. Misalnya, ketika pengumuman kelulusan seorang siswa tidak lulus, mereka pingsan dan menjerit-jerit bahkan sampai masuk rumah sakit jiwa (RSJ). Belum lagi orang tua yang tidak mau menerima anaknya yang tidak lulus.
Mereka hanya memahami bahwa nilai pendidikan adalah nilai angka. Padahal sudah dijelaskan dalam UU SIkdisnas Tahun 2003 No 20 tentang tujuan pendidikan. Tujuannya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan .
Coba perhatiakan tujuan pendidikan di atas, manusia yang beriman dan berbudi pekerti luhur ditempatkan pada urutan yang lebih awal dari memiliki pengetahuan dan ketermapilan. Maka tidak salah apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara tentang trilogi pendidikan, bahwa untuk mewujudkan pendidikan yang bisa menghasilkan anak yang bermoral bisa dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Prof. Dr. Djohar, M.S. mengatakan bahwa pendidikan penting untuk ditempatkan sebagai bentuk investasi jangka panjang (long term investation) dan garda terdepan pembangunan bangsa. Pendidikan memberikan peluang untuk mentransformasikan nilai-nilai pendidikan agar penyelenggaraan pendidikan mampu menjadi problem solver terhadap problamatika yang dihadapi masyarakat. Atau secara sederhana disampaikan oleh Soenarja S.J., bahwa pendidikan itu mengarah pada pendewasaan pribadi sebagai manusia dan warga Negara.
UN yang selama ini kita jalankan terbukti telah banyak menyebabkan permasalahan-permasalahan baru. Pendidikan yang seharusnya menjadi solusi terhadap problematika bangsa tidak tercapai. Malah yang terjadi sebaliknya, yakni pendidikan menambah masalah baru bagi kita. Sehingga beban bangsa menjadi bertambah berat.
Dengan demikian, sudah selayaknya para guru dan praktisi pendidikan lainnya mengkaji ulang tentang makna pendidikan. Jangan sampai pendidikan menjadi satu momok bagi para guru dan siswa. Perlu dipahami bahwa pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan nilai angka terbaik, namun lebih dari itu pendidikan ditujukan untuk mendapatkan nilai moralitas yang tinggi dan menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat.
Tak cukup berhenti di situ, para guru dan orang tua juga perlu memahamkan kepada seluruh anak didiknya tentang hakikat pendidikan itu sendiri. Kesalahpahaman akan makna pendidikan akan berakibat fatal bagi peserta didik.
Hal ini juga sebagai bentuk antisipasi saat pelaksanaan UN. Karena tidak jarang saat UN terjadi kecurangan-kecurangan yang dapat merusak nilai-nilai pendidikan. Baik kecurangan yang dilakukan oleh guru, pengawas dan siswa sendiri. Sabab, tindakan-tindakan kecurangan tersebut telah merusak dan mengotori nilai-nilai mulia pendidikan.

Kamis, 18 Maret 2010

Siap Cetak Madzhab Sosial Kritis

0 komentar
Launching SC2 Institute for Culture UMM

Untuk meningkatkan kualitas akademik mahasiswa UMM, Institute for Culture (Lembaga Kebudayaan) UMM menyelenggarakan launching Cultural Studies Student Club (SC2) (17/2). Kegiatan yang diselenggarakan di Aula BAU tersebut diikuti oleh kurang lebih 110 mahasiswa. Menurut Arif Budi Wurianto, Kepala Lembaba Kebudayaan UMM, pembentukan club studi tersebut dilarabelakangi oleh sedikitnya karya tulis mahasiswa di bidang seni.
Arif mengatakan, jarangnya proposal di bidang seni dan sosial kritis ke Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) juga menjadi latar belakang didirikannya club studi tersebut. “Banyak juga duta besar yang mengadakan lomba karya tulis di bidang seni dan budaya,” tambahnya. Ia berharap dengan kegiatan teersebut mahasiswa bisa terdorong untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas akademiknya.
Sesuai dengan visinya; mewujudkan mahasiswa cerdas, kritis, dan pemikir lintas disipilin melalui pemikiran studi cultural, maka menurut Arif, denngan kegiatan tersebut diharapkan juga dapat menciptakan sebuah madzhab sosial kritis yang keluar dari UMM. “Pemikir-pemikir besar yang kritis itu kebanyakan muncul dari diskusi-diskusi kecil,” ujarnya.
Pembantu Rektor (PR) III, Joko Widodo, mengaspresiasi terbentuknya SC2 tersebut di UMM. Menurut Joko, selama ini mahasiswa kurang minat dalam bidang seni dan sosial budaya. Bisa dilihat dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) lebih banyak kepada PKM Kewirausahaan. “Sementara di bidang seni dan soasial sangat sedikit,” ujarnya dalam sambutannya.
Joko merasa optimis dengan munculnya klub studi ini akan muncul pemikir-pemikir yang kritis di bidang seni dan sosial budaya. “Asalkan ditunjang dengan fasilitas dan komitmen yang kuat, dan saya siap memfasilitasinya,” ucapnya. “Kegiatan ini juga sangat potensial untuk dikembangkan,” tambahnya.
Bagi Kastur Eko, ikut kegiatan kajian dan studi klub seperti ini sudah menjadi tuntutan bagi dirinya. Pasalnya, mahasiswa harus berpikir kritis dan obyektif. “Krtitis terhadap kondisi sosial budaya yang ada di masyarakat saat ini,” ungkapnya. “Ketika saya ditawari untuk ikut saya langsung tertarik, soalnya saya merasa itu sangat bermanfaat,” tambahnya. rjb

HARAP JADI MOTIVATOR SISWA

0 komentar
Lomba untuk SMP dan SMA OLYCON 2010

Bertempat di gedung kuliah bersama (GKB) 1 lantai 4, digelar lomba untuk siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan yang sederajat (6/02). Lomba-lomba tersebut mencakup tiga jenis mata pelajaran; Fisika, Matematika dan Ismuba untuk SMP dan Akuntansi, Fisika, Ismuba dan Matematika. Lomba ini diharapikan dapat memotivasi siswa-siswa dalam meningkatkan kualitas belajarnya. Demikian ungkap Iswahyudi, Guru Fisika SMP Muhammadiyah 1 Surabaya.
Menurut Iswahyudi, The National Olympiad and International Conference (Olycon) yang diselenggarakan saat ini perlu dikembangkan dan ditingkatkan secara intensif. Pasalnya, kegiatan itu dapat mengetahui sejauh mana kompetensi dan sekolah dalam bersaing dalam kancah nasional. “Saya berharap Olycon ini benar-benar me-nasional dan tidak didominasi oleh sekolah-sekolah Jawa Timur saja,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kukuh Dwi Cahyana mengatakan, Olycon dapat memicu siswa untuk lebih giat belajar. Guru SMP Muhammadiyah 4 Singosari Malang tersebut mendampingi satu siswa SMP dalam lomba Matematika. “Pengiriman siswa ini diharapkan dapat mengetahui kompetensi siswa dan sekolah di bandingkan dengan sekolah-sekolah lain,” ujarnya.
Lomba yang diselenggarakan dalam acara Olycon tersebut mendapat sambutan hangat dari Aditiya Rahmat. Peserta lomba Fisika SMP itu merasa senang karena merasa terlibat langsung dalam lomba tersebut. “Alhamdulillah saya diikutkan, dengan ini saya akan dapat pengalaman dan tambah wawasan,” ujar siswa SMP Muhammadiyah 1 Surabaya tersebut. “Saya sudah persiapan 2 bulan yang lalu,” tambahnya.
Sama halnya dengan Indra Dwi Nugraha, Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Ia merasa senang dengan adanya lomba ini. “Apalagi setelah masuk babak final, senang sekali,” ujarnya. Pasalnya, Indra mempunyai tekad yang kuad untuk membawa nama baik sekolahnya dalam kancah nasional.
Kegiatan itu mendapat kritik dari Kukuh. Pasalnya, pelaksanaan lomba tidak tepat waktu alias molor. Akibatnya, siswa merasa kendor semangatnya. Dia berharap kekurangan ini perlu diperbaiki untuk Olycon yang akan datang. “Untuk pelayanan saya rasa sudah cukup baik,” katanya. “Saya berharap kegiatan semacam ini terus ditingkatkan,” tambahnya. rjb

MULAI DENGAN SEMANGAT BARU

0 komentar
Refleksi Akhir Tahun (RAT) Forsifa FAI

Forum Studi Islam Fakultas Agama Islam (Forsifa) UMM menyelenggarakan Refleksi Akhir Tahun (RAT) di Aula Masjid AR. Fachruddin lantai I UMM (31/12/09). Kegitan yang bertemakan Go Head ini dilaksanakan bukan hanya untuk merefleksikan inerja organisasi tersebut. “Melihat kembali apa yang telah kita lakukan, kemudian apa yang akan kita lakukan ke depannya,” ungkap ketua pelaksana, Isnainy Iskandar.
Mahasiswi Syari’ah 2008 tersebut berharap forsifa akan lebih maju dengan mengadakan refleksi itu. Baginya, dengan kegiatan itu akan terpikirkan kembali kekurangan-kekurangan Forsifa yang perlu diperbaiki. “supaya para pengurus Forsifa bertambah semangat menjalankan tugasnya, sesuai dengan temanya,”ujarnya.
Menurut Rahma Faricha, Sekretaris Forsifa, kegiatan ini dirancang untuk mengisi momen penting akhir tahun. Pasalnya, akhir tahun merupakan kesempatan yang bagus untuk memperbaiki kembali langkah yang salah selama tahun 2009 lalu. “Introspeksi sekaligus merencanakan langkah baru untuk forsifa di tahun 2010,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Pembantu Dekan (PD) III FAI, Muhammad Syarif menyampaikan, dalam bekerja harus meninggalkan jejak. Menurutnya, generasi penerus akan melihat langkah yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. “untuk itu jejak yang ditinggalkan juga harus berkualitas,” jelasnya. “Nah dengan merefleksi diri, maka kita akan tahu jejak yang ditinggalkan, tambahnya.
Syarif menegaskan, awal tahun 2010 ini merupakan kesempatan emas untuk memperbaiki kinerja, khususnya bagi Forsifa. “Kegiatan-kegiatan yang membangun dan membangkitkan kretivitas mahasiswa perlu terus dikembangkan,” katanya. Karena itu, menurutnya, refleksi kali ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan Forsifa.
Lebih jauh lagi Syarif menekankan, saat ini Forsifa harus punya mimpi besar, dengan mimpi tersebut usaha dan semangat Forsifa untuk menjadi yang lebih baik akan bertambah. “Jangan bermimpi yang kecil, karena orang yang sukses itu berawal dari mimpi yang besar,”ungkapnya.
Acara yang dihadiri oleh 30 peserta tersebut mendapat tanggapan hangat dari Sulaiman, salah seorang peserta. Menurut mahasiswa Tarbiyah 2007 itu, acara tersebut sangat bermanfaat buat mahasiswa, khususnya anggota Forsifa. Pasalnya, dengan kegiatan semacam itu akan menambah kesadaran mahasiswa untuk meningkatkan kinerja dalam belajarnya,” ungkapnya. “Soalnya dengan refleksi ini diharapkan bisa mengetahui kekurangan yang telah dilakukannya pada hari-hari sebelumnya,” tambahnya.rjb

LULUS, BUKAN AKHIR SEGALANYA

0 komentar
Yudisium FAI

Bertempat di ruang Micro Teaching Tarbiyah, Fakultas Agama Islam (FAI) UMM menggelar Yudisium untuk sepuluh mahasiswa yang akan diwisudah pada akhir Februari (15/2). Sepuluh mahasiswa tersebut masing-masing; 3 mahasiswa Tarbiyah dan 7 mahasiswa Syari’ah. Menurut Sunarto, Dekan FAI, kelulusan bukanlah akhir dari tanggung jawab untuk belajar. “Dengan lulusnya kalian dari FAI UMM maka kalian mempunyai tanggung jawab baru yang lebih berat dari sebelumnya,” pesannya.
Mahasiswa FAI diharapkan ketika berada di tengah-tengah masyarakat bisa menjadi ahli agama dan professional di bidangnya. “Yang Tarbiyah di bidang pendidikan Agama Islamnya, Syari’a dalam hukum Islamnya,” jelas Sunarto. Pasalnya, Pihak fakultas telah memberikan fasilitas untuk mencapai keahlian-keahlian di atas. “Apakah hal itu sudah tergapai atau belum, yang tahu adalah diri masing-masing,” ungkapnya.
Sunarto berharap, mahasiswa FAI yang sudah diwisuda nanti bisa membawa nama baik fakultas di masyarakatnya masing-masing. “Di mana pun anda berada, harus bisa mengangkat nama baik fakultas, kalaupun ada kekurangan langsung di sampaikan ke pihak fakultas langsung,” pintanya.
Menurut Gadi Nur Taufik, Kepala Jurusan Tarbiyah, mahasiswa yang diyudisium berarti ia telah menghadapi ujian skripsi. Dengan ujian tersebut mahasiswa dapat ilmu beru tentang penelitian. “Karena sebelum bimbingan dan ujian skripsi belum tentu dia memahami secara benar seluk beluk penelitian,” ujarnya. Ia menambahkan, semua mahasiswa yang akan diwisuda tersebut nanti wajib ikut pembekalan kewirausahaan dan tes toefl. “Semua itu untuk kepentingan mahasiswa sendiri,” katanya.
Pradana Boy, Kajur Syari’ah FAI menegaskan, kelulusan bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak tugas yang harus dikerjakan seorang mahasiswa setelah lulus. “Karena sebenarnya pasca lulus itulah yang menentukan diri kita,” ucapnya. Ia menyarankan untuk memanfaatkan studi lanjut. “Banyak sekali peluang beasiswa S2, tergantung apakah mau mencari atau tidak,” ungkapnya.
Acara Yudisium tersebut disambut senang oleh Muhammad Fajar. Mahasiswa Syariah itu merasa bahagia karena telah bisa menunaikan tugasnya di kampus. Kebanggaannya tersebut mendorongnya untuk mengadakan syukuran di kosnya. “Nanti saya akan mengundang teman-teman, ya acaranya semacam syukuran gitu,” ucapnya. rjb

CIPTAKAN INSPIRASI PARA GURU

0 komentar
Seminar Pendidikan HMJ Tarbiyah FAI UMM

Untuk membekali para calon guru, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarbiyah menyelenggarakan seminar yang bertemakan Sejuta Insiprasi dalam Mengembangkan Media dan Metode Pembelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula BAU UMM (27/12) dengan dihadiri 160 peserta dari berbagai fakultas termasuk juga para guru. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada para guru dan calon guru dalam mengembangkan teknologi pembelajaran,” jelas Ramanda, Ketua HMJ Tarbiyah.
Acara tersebut mendapat dukungan penuh dari Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Agama Islam (FAI) UMM, Muhammad Syarif baik materil maupun non materil. Dalam sambutannya, Syarif menyampaikan, ia akan mendukung semua kegiatan yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa FAI selama kegiatan itu mendatangkan manfaat. “Saya akan men-support dananya walaupun tidak penuh,” ujarnya.
Terkait dengan tema yang diangkat dalam acara itu, Syarif sangat sepakat. Pasalnya, mahasiswa Tarbiyah khususnya dan mahasiswa UMM pada umumnya merupakan calon-calon guru di masa mendatang. Dia berharap dengan kegiatan itu, para calon guru lebih bisa mempersipakan metode yang inovatif dalam menggunakan media dan metode pembelajaran. “Juga metode-metode yang dikembangkan harus professional,” tegasnya.
Menurut Nasir, ketua pelaksana seminar tersebut, kegiatan tersebut diadakan atas dasar kondisi sarjana yang banyak menganggur. Mahasiswa tarbiyah semester 3 tersebut menekankan, tujuan dari pelaksanaan kegiatan itu, untuk membekali para mahasiswa khususnya calon guru inspirasi baru dalam mengajar. “Juga untuk mengimbangi perkembanngan teknologi khususnya teknologi informasi,” jelasnya.
Kegiatan yang dimoderatori Mantan Ketua BEM-UMM, Rahmadani Al-Barauwi tersebut diisi oleh pemateri, Wahono dan Arif Budi Wurianto. Dalam materinya, Wahono menekankan penggunaan teknologi infrormasi, seperti komputer, internet dalam media pembelajaran. “Tapi para guru tidak boleh bergantung penuh terhadap teknologi,” jelasnya. “Harus sesuai kebutuhan,” tambahnya. Pasalnya, menurut Dosen Media Pembelajaran Tarbiyah tersebut, sifat dasar teknologi adalah netral. “jadi tergantung penggunanya,” tegasnya.
Sementara Arif Budianto menekankan dalam materinya, media dan metode terbaik dalam pembelajaran adalah yang relevan dengan situasi dan kondisi. “Untuk itu para guru dituntut untuk kreatif dalam mengembangkan media dan metode pembelajaran,” ucapnya.
Berbagai tanggapan muncul dari para peserta terhadap kegiatan tersebut. Misalnya, menurut Karinah Endah, Mahasiswa salah satu universitas di Malang mengatakan, kegiatan tersebut sangat cocok untuk para guru. Pasalnya, dengan kegiatan tersebut guru akan mempunyai gambaran untuk menciptakan inovasi-inovasi dalam pembelajaran. “Ini kan dapat menghilangkan kejenuhan siswa di kelas,” ungkapnya. Sama halnya dengan Hudzaifah, mahasiswa Biologi UMM mengatakan, “saya bersyukur dengan mengikuti kegiatan ini, karena kebetulan juga ada tugas kuliah untuk menciptakan media pembelajaran,” ujarnya. rjb

Selasa, 16 Maret 2010

ANALISIS PERBANDINGAN PENDIDIKAN DI INGGRIS DAN PENDIDIKAN ISLAM

0 komentar
Disusun oleh:
Muhammad Rajab (07110037)

Berbicara aliran atau landasan filsafat pendidikan di Inggris, maka tidak salah kalau memulai dari sejarah Reformasi Anglikan di Inggris. Hal itu dimulai dengan perseteruan warga Tudor denngan gereja Roma dengan gereja Roma tidak ditujukan untuk meningkatkan kepentingan kebebasan beragama. Sepanjang hayatnya Henry VIII tetap memegang komitmen keagamaan yang kuat. Konon setiap hari dia menghadiri misa, bahkan ketika melakukan penyerangan militer dan perjalanan panjang lainnya.
Perselisihannya dengan Roma berkisar pada raja atau Paus yang memegang kekuasaan tertinggi di Inggris. Atas supremasi ini Henry VIII menerima wewenang untuk membersihkan gereja, sekolah dan pemerintahan. Dengan menegaskan bahwa supremasi terletak pada raja. Henry VIII mengganti sistem gereja menjadi gereja Inggris (Church of England) dengan raja inggris sebagai kepalanya. Di bawah pemerintahan Elizabet I, perubahan ini diresmikan oleh parlemen denngan undang-undang supremasi dan undang-undang keseragaman.
Kini gereja Inggris mewarisi hak istimewa, tugas dan tanggung jawab di bidang pendidikan dan tadinya di pegang gereja Roma. Teologi anglikan dan ulama gereja Anglikan mendominasi kancah universitas. Ulama gereja Anglikan melakukan tugas pengawasan atas grammer school dan memberikan pengajaran agama di paroki gereja. Namun, tempat-tempat yang mengajarkan dasar-dasar membaca, menulis dan matematika sederhana untuk rakyat hanya sedikit, dan wangsa Tudor tidak berminat membuka sekolah yang mengajarkan materi-materi seperti itu.
Ada tiga prinsip pedoman yang diberlakukan dari abad ke-15 sampai abad ke-19. Pertama, ketetapan dalam undang-undang supremasi yang memberikan supremasi kepada raja untuk urusan gereja maupun urusan sipil. Undang-undang tersebut menyatakan pendirian sekolah yang sah harus memiliki piagam resmi dari raja atau surat izin dari seorang uskup gereja Inggris.
Prinsip kedua, termuat dalam undang-undang keseragaman, yaitu sekolah yang tidak mau menyesuaikan diri dengan doktrin dan kebiasaan gereja Inggris tidak akan mendapatkan izin. Untuk itu semua harus memperoleh surat izin dari uskup atau wakilnya yang telah ditunjuk. Ulama gereja Anglikan diperintahkan untuk senantiasa mengawasi segala aktivitas pengajaran yang diadakan di sekolah wilayah gereja guna memastikan bahwa sekolah tidak memberikan pelajaran yang menyimpang dari ajaran ortodok.
Prisnsip ketiga menetapkan keluarga sebagai kelompok yang secara financial bertanggung jawab atas pendidikan. Sesuai prinsip ini, wajib hadir di sekolah tidak diberlakukan di Inggris untuk waktu lama, sementara Negara-negara Protestan di Eropa sudah memberlakukan untuk undang-undang itu. Baik warga Tudormaupun para penggantinyatidak membentuk suatu lembaga nasional untuk mengurusi pendidikan.
1. Empirisme di Inggris
Tokoh aliran Empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Teorinya dikenal dengan Tabulae rasae (meja lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Misalnya: Suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala alat diberikan dan pendidik ahli didatangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidak ada. Akibatnya dalam diri anak terjadi konflik, pendidikan mengalami kesukaran dan hasilnya tidak optimal.
Contoh lain, ketika dua anak kembar sejak lahir dipisahkan dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Satu dari mereka dididik di desa oleh keluarga petani golongan miskin, yang satu dididik di lingkungan keluarga kaya yang hidup di kota dan disekolahkan di sekolah modern. Ternyata pertumbuhannya tidak sama. Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dikesampingkan. Padahal, ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun lingkungan tidak mendukung.
Adanya aliran ini yang diprkarsai oleh tokoh John Lokc ini akhirnya dapat memicu perkembangan pendidikan di Inggris. Karena dampak dari pendidikan yang menganut aliran ini adalah menempatkan usaha dan kerja keras untuk melakukan sesuatu. Hal ini terbukti dengan banyaknya perkembangan yang ada di Inggris, khususnya dalam bidang pendidikan.
Pada tahun 1870-an Inggris mengalami perkembangan dalam bidang pendidikan, baik perkembangan administratif maupun perkembangan kelembagaan. Perkembanngan tersebut bermula pada saat transisi dari system pendidikan swasta ke system pendidikan nasional dipandu selangkah demi selangkah melalui hak perluasan masyarakat pekerja. Walaupun tidak memuaskan dalam memberikan hak suara pada semua laki-laki dewasa, undang-undang reformasi tahun 1867 memungkinkan kelas pekerja mengendalikan keseimbangan kekuasaan antara partai liberal dan partai konservatif dalam house of commends.
Setelah itu baik pemerintah liberal maupun pemerintah konservatif tidak berani bertinndak tanpa mempertimbangkan keinginan masyarakat pekerja. Pada saatnya, kelas pekerja memutuskan untuk independent secara politik dan membentuk partai buruh. Upaya partai itu untuk memperbaiki keadaan melalui instansi-instansi pemerintah pertama-tama menghasilkan serangkaian undang-undang ketenagakerjaan dan reformasi pendidikan, juga nasionalisasi transportasi dan beberapa industri utama, pengenalan perawatan nasional, berbagai jenis program asuransi, dan layanan kesejahteraan lain setelah perang dunia II.
Meningkatnya jumlah pelayanan pemerintah tak pelak memerlukan penigkatan pendidikan masyarakat semua individu yang memungkinkan mereka mengelola dan memanfaatkan instansi-instansi baru secara bijaksana. Oleh karena itu sekolah-sekolah di Inggris tidak lagi diizinkan membatasi pengajaran hanya pada dasar-dasar kepercayaan sekte dan kemampuan baca tulis yang diperlukan untuk membaca dan menulis dalam bahasa ibu.
Perkembangan adiministratif juga Nampak di Inggris denga adanya undang-undang pendidikan tahun 1870 yang menyerahkan pendidikan ke tangan inisiatif local. Sebagai hasilnya, daerah-daerah yang paling sedikit memperoleh informasi tentang pendidikan tetap kekurangan fasilitas. Namun, sintimen public mulai berpihak pada wajib belajar gratis di sekolah.
Tak hanya itu adanya undang-undang pendidikan tahun 1970 adalah besarnya peningkatan pada sekolah-sekolah dasar. Tidak hanya seklah negeri yang didirikan untuk pertama kalinya, tetapi badan-badan swasta yang menyelenggarakan sekolah amal juga didorong melalui persaingan ini untuk melipatgandakan usaha-usaha mereka. Namun banyak daerah yang tetap tidak mempunyai sekolah karena komunitas loka tidak diwajibkan memilih dewan sekolah atau dipaksa menyediakan pendidikan. Meskipun demikian, tempat-tempat yang memiliki dewan sekolah memperoleh banyak kebebasan untuk memperoleh banyak kebebasan untuk mendirikan sekolah dasar yang mengembangkan program pendidikan baru. Beberapa dewan pendidikan, khususnya di pusat-pusat industry dan perdagangan yang lebih besar, memulai tugas mereka dengan antusias dan kesadaran i’tikad yang menakjubkan.
2. Tinjauan Filosofis Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan Islam secara filosofis memiliki kedudukan yang tinggi. Karena tujuanlah yang akan menentukan arah pendidikan tersebut. Menurut Ahmad D. Marimba, ada empat fungsi tujuan pendidikan, pertama, tujuan pendidikan berfungsi mengakhiri usaha. Sesuatu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidaklah mempunyai arti apa-apa. Selain itu, usaha mengalami permulaan dan mengalami pula akhirnya. Ada usaha yang terhenti karena suatu kegagalan sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha tersebut belum dapat disebut berakhir.
Kedua, tujuan berfungsi mengarahkan usaha, tanpa adanya antisipasi (pandangan ke depan) kepada tujuan, penyelewengan akan banyak terjadi dan kegiatan yang dilakukan tidak akan berjalan secara efesien. Ketiga, tujuan dapat berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain yaitu tujuan-tujuan baru atau tujuan lanjutan dari tujuan pertama.
Adapun tujuan pendidikan Islam menurut Abuddin Nata adalah sebagai berikut:
1. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melakukan tugas-tugas memakmurkan dan mengelolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan.
2. Mengarhkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifaannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.
3. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehingga ia tidak menyalhgunakan fungsi kekhalifaannya.
4. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaniyahnya sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifaannya.
5. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.
Semua rangkai tujuan pendidikan Islam di atas tidak lepas dari ayat al-Quran sebagai pedoman Islam itu sendiri. Allah berfirman dalam al-Quran surat adz-Dzariyat ayat 56,
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”
3. Analisis Filosofis Pendidikan di Inggris dan Pendidikan Islam
Melihat pembahasan di atas, maka penulis ingin menganalisis perbandingan antara landasan pendidikan di Inggris dengan pendidikan Islam. Dimulai dari pendidikan Islam, secara normative pendidikan Islam tidak akan pernah lepas dari landasan utama Islam itu sendiri yaitu al-Quran dan as-Sunnah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,
“Setiap anak yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.”
Berdasarkan hadits di atas bisa dimaknai bahwa Islam memandang seorang anak sudah membawa bakat sejak lahir. Tergantung bagaimana orang tua atau lingkungan yang akan mencetak anak tersebut. Hal ini memberikan implikasi kepada peserta didik berupa usaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam melakukan proses pembelajaran.
Berbeda dengan aliran filsafat empirisme yang berkembang di Inggris yang ditokohi oleh John Lock, yang mengatakan bahwa manusia itu lahir tidak membawa apa-apa seperti kertas putih. Kelemahannya adalah aliran semacam ini tidak memandang bahwa juga anak itu membawa bakat sejak lahir.
Aliran semacam ini bertentangan dengan aliran nativisme bahwa yang mempengaruhi perkembangan seseorang itu bukan lingkungan tapi bawaan sejak lahir dari kedua orangtuanya. Pandanngan semacam ini akhirnya juga dapat memberikan dampak pada usaha dalam menjalankan tugas pendidikan itu sendiri.
Adapun pendidikan Islam menganut kedua teori di atas. Sebab pendidikan Islam tidak menafikan bawaan dari orang tua dan juga factor lingkungan. Semuanya sama-sama memberikan pengaruh dalam perkembangan pendidikan atau anak didik.

DAFTAR PUSTAKA
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/akuntansi/aliran-aliran-pendidikan
Marimba, Ahmad D.. 1962. Pengantar. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT Al-Ma’arif.
Madkour, Ibrahim. 2004. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Followers

 

Bersama Membangun Bangsa. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com